IMQ, Jakarta —
Ketika Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), perusahaan properti dan tekstil yang kemudian banting setir menjadi holding untuk perusahaan jasa tambang batubara, seketika itu pula sahamnya menjadi incaran pelaku pasar di lantai bursa.
Keberhasilan DOID mengakuisisi PT Bukit Mandiri Utama (BUMA) pada 2009 silam dengan menggunakan utang dari perbankan terpaksa membuat DOID banting tulang untuk mengurangi utangnya sebelum menikmati keuntungan yang naik secara konsisten tiap tahunnya.
Pada kuartal pertama tahun ini, utang DOID Rp5,5 triliun, atau mencapai 71% dari total aset perusahaan, sehingga besarnya bunga pinjaman cukup menekan perolehan laba bersih DOID tiap kuartalnya, dengan laba hanya Rp155 miliar. Sayang, tiga bulan sebelumnya di 2010 DOID mencatat rugi Rp159 miliar.
"Karena itulah, perolehan laba bersih DOID pada setiap kuartalnya bisa dengan mudah naik dan turun hingga minus, bergantung pada kurs rupiah dan dolar," tutur pengamat pasar modal Teguh Hidayat dalam risetnya yang dipublikasikan 27 Juni 2011.
Ia membeberkan jika rupiah lagi 'berteman', maka pendapatan dari selisih kurs DOID bisa menutupi beban bunga utang dan mencegah terjadinya kerugian. Namun, sebaliknya pendapatan dari selisih kurs bisa berbalik menjadi beban yang akhirnya memperbesar kerugian.
"Dilihat dari sini, maka saham DOID menjadi tidak aman untuk dikoleksi, karena laba perusahaan dapat berubah 180 derajat setiap kuartalnya," selorohnya.
Nah, senjata ampuh pun dikeluarkan dengan melakukan rights issue US$200 juta dengan tujuan membayar utang di mana sekitar 38%, atau Rp464 miliar, dipakai untuk membayar utang, dan sisanya mengembangkan BUMA sepanjang berjalan sesuai rencana.
Lantas, apakah kinerjanya akan membaik mengingat pengurangan utang yang terjadi tidak terlalu signifikan, yaitu Rp464 miliar berbanding Rp5,5 triliun? DOID masih tetap membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mengatasi utang-utangnya agar dapat menjadi perusahaan yang mampu menghasilkan laba secara konsisten dari kuartal ke kuartal.
"Masalahnya, total kewajiban DOID pada kuartal pertama 2011 justru bertambah dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya dari Rp5,2 triliun menjadi Rp5,7 triliun," lirihnya.
Selain itu, BUMA juga harus membuktikan diri sebagai perusahaan jasa tambang batubara yang mampu mencatat peningkatan kinerja yang konsisten. Produksi batubaranya di kuartal pertama kemarin sebesar 7,8 juta ton, lebih kecil dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 8 juta ton.
"Jadi, DOID belum bisa direkomendasikan kecuali jika di masa mendatang DOID mampu mencetak peningkatan pendapatan yang signifikan hasil dari pengembangan BUMA," sarannya.
Pada penutupan perdagangan saham kemarin (5/7), harga saham DOID ditutup menguat Rp10 (0,93%) ke Rp1.090.











