IMQ, Jakarta —
Melesatnya kebutuhan akan minyak sawit dunia membuat prospek perusahaan-perusahaan di sektor perkebunan sawit semakin mengkilat.
Menurut laporan Oil World periode Juni 2011, volume ekspor CPO Indonesia di tahun ini diprediksi akan mencapai 17,47 juta ton. Hal itu merupakan dampak dari perbaikan kinerja produksi yang diperkirakan akan meningkat sekitar 6% menjadi 23,54 juta ton, dengan negara-negara tujuan utama ekspor masih meliputi antara lain India, Uni Eropa dan China.
Sebagai salah satu produsen utama minyak sawit dan telah mengelola area perkebunan 263.281 hektar total, termasuk inti dan plasma (petani) perkebunan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dengan rata-rata berusia 14 tahun. Hal tersebut tentunya memberikan peluang bagi PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) untuk meningkatnya kinerjanya tahun ini.
Dalam data investor bulletin yang dikeluarkan perseroan disebutkan, hingga lima bulan pertama tahun ini perseroan berhasil membukukan pendapatan mencapai Rp3,8 triliun dari penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Pendapatan itu ditopang oleh meningkatnya volume penjualan CPO perseroan sebesar 27,1% menjadi 474.772 ton dengan harga rata-rata Rp8.043 per kilogram, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 373.631 ton dengan harga rata-rata Rp6.588 per kilogram.
Analis eTrading Securities Linda Lauwira mengatakan meredanya cuaca El Nino atau pengurangan curah hujan ke level yang normal, maka produksi tandan buah segar (TBS) dapat ditingkatkan.
"Kenaikan produksi dinikmati oleh semua perusahaan CPO yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia," ungkapnya.
Selain menikmati kenaikan dari sisi volume, AALI juga menikmati kenaikan dari sisi harga jual rata–rata CPO dan palm kernel, yaitu sebesar 22,1% dan 88,5%.
"Dari sisi penjualan dengan hitungan simpel, maka penjualan selama 5 bulan 2011, termasuk lokal dan ekspor yang sebesar 474.772 ton dengan harga rata–rata sebesar Rp8.043 per ton menjadikan nilai penjualan mencapai Rp3,8 triliun. Pada periode yang sama 2010 tercatat 373.631 ton dengan harga jual rata–rata sebesar Rp6.588 per ton menjadikan nilai penjualan sebesar Rp2,5 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 55% hanya dari penjualan CPO," ungkapnya.
Sementara Analis CIMB Securities Indonesia Mastono Ali mengatakan dengan kinerja AALI yang sangat positif, harga saham perseroan diperkirakan masih berpotensi bergerak naik hingga akhir tahun ini.
Berdasarkan konsensus, analis merekomendasikan "Buy" untuk saham AALI dengan target harga (TP) hingga akhir tahun ini Rp26.055 per saham.
Pada penutupan perdagangan kemarin (28/6), saham AALI berada di level Rp22.950 per saham, dengan volume sebanyak 336,50 juta lembar saham senilai Rp7.75 miliar.











