IMQ, Jakarta —
Sebagai perusahaan milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan timah, PT Timah terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan utama pada berbagai sektor industri lainnya.
Perusahaan penambangan timah terbesar di Indonesia dan juga sekaligus eksportir timah terbesar dunia ini menguasai hak penambangan timah seluas 522.460 hektar dengan 114 Kuasa Pertambangan (KP) baik di darat (Onshore) maupun di laut (Offshore). Wilayah operasi perseroan meliputi Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Kepulauan Riau, yang dikenal sebagai Indonesian Tin Belt.
Untuk menopang kinerjanya, pada tahun ini perseroan melakukan peningkatan belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi Rp1,4 triliun dari rencana semula sekitar Rp1,2 triliun.
Dengan peningkatan belanja modal tersebut, perseroan tentunya akan lebih leluasa untuk melakukan penambahan alat-alat produksi serta modifikasi kapal.
Selain itu, belanja modal itu juga akan digunakan untuk melakukan pembangunan pabrik tin chemical tahap kedua senilai Rp180 miliar, pembesaran kapasitas galangan kapal senilai Rp154 miliar, pembangunan teknologi pengolahan pemurnian (fuming furnace plant) sebesar Rp115 miliar, dan pembukaan tambang besar senilai Rp80 miliar.
Analis Anugerah Securindo Indah, Viviet S Putri, mengatakan rencana perseroan untuk meningkatkan produksi off shore memang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja di masa mendatang.
"Jika kita melihat kinerja perseroan, tahun ini tentunya akan mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring dengan kenaikan harga komoditas timah di pasaran," ungkapnya.
Selain itu, lanjut Viviet, kemampuan manajemen dalam melakukan efisiensi terhadap beban-beban yang dimiliki juga akan meningkatkan margin keuntungan.
“Kinerja terutama didukung kenaikan harga jual,” ucapnya.
Sementara itu, Head of Research eTrading Securities, Betrand Raynaldi mengatakan perseroan mencatat peningkatan laba bersih 2010 sebesar 202% menjadi Rp947,9 miliar dibandingkan periode sebelumnya senilai Rp313,8 miliar dan pendapatan di 2010 yang tercatat senilai Rp8,33 triliun. Pencapaian ini didorong oleh kenaikan harga logam timah dunia pada pertengahan paruh kedua 2010 serta penurunan beban pokok pendapatan sebesar 2 % dibanding tahun 2009.
"Ke depannya TINS memperkirakan konsumsi timah dunia akan mengalami kenaikan 10%. Sedangkan untuk saham TINS saat ini diperdagangkan pada PE 10.44x di bawah rata-rata industri yang sebesar 14.68x," ujarnya.
Berdasarkan konsensus, analis merekomendasikan "Buy" untuk saham TINS dengan target harga (TP) Rp3.228 per saham.
Pada penutupan perdagangan kemarin (27/6), saham TINS berada di level Rp2.450 per saham, dengan volume sebanyak 6,21 juta lembar saham senilai Rp15,33 miliar.











