IMQ, Jakarta —
Sebagian besar investor pemula mempercayakan modal untuk dikelola oleh broker dengan harapan mendapatkan untung dari saham-saham yang diinvestasikannya. Tak jarang dari mereka harus menderita kerugian sebab tidak memiliki pengetahuan cara berinvestasi.
Menurut Head Equity Lautandhana Securindo Sanny Gunawan, kondisi ini dipicu oleh tidak adanya bimbingan baik dari broker maupun rekan terdekat, ditambah pengetahuan yang minim tentang investasi di saham dan latar belakang perusahaan yang mencatatkan efeknya di lantai bursa.
"Investasi yang benar adalah investasi yang konsisten dan tepat," ujar Sanny kepada IMQ akhir pekan lalu.
Ia pun menjabarkan empat prinsip dasar untuk membeli saham, antara lain:
1. Mengenal bisnis perusahaan yang mencatatkan efek di BEI
2. Manajemen dari perusahaan yang rasional, jujur dan menganut paham Good Corporate Governance (GCG)
3. Finansial. Artinya, apakah perusahaan tersebut membukukan laba atau tidak
4. Market. Maksudnya, membeli saham pada harga sahamnya di bawah harga wajar sebagai hasil dari perhitungan analisis fundamental
"Jangan membeli saham, melainkan beli bisnisnya sehingga kita dapat meraup untung seperti Warren Buffet," selorohnya.
Ia juga merekomendasikan untuk membeli saham-saham yang setiap harinya dikonsumsi oleh masyarakat seperti consumer goods, Unilever serta saham-saham milik pemerintah seperti Bank Mandiri dan PT Krakatau Steel Tbk.
"Saya melihat saham-saham yang menjadi konsumsi inilah yang memliki tren naik sebab selalu dicari," tukasnya.
Menyoal saham-saham yang baru menjajakan diri di lantai bursa alias IPO, ia mengakui tidak menyukainya sebab minimnya pengetahui tentang jejak rekam perusahaan tersebut. "Saya tunggu market crash dulu baru beli saham IPO," pungkasnya.











