IMQ, Jakarta —
Intraco Penta Tbk (INTA) bukanlah perusahaan yang terlalu populer di lantai Bursa Efek Indonesia. Namun, prospek sahamnya menarik bak pisang goreng khas Kalimantan.
Saham ini menjadi menarik untuk dicermati pasca pemecahan nilai saham alias stock split pada 9 Juli kemarin, di mana rasionya cukup besar yaitu 1:5. Sebelum stock split, jumlah saham INTA milik publik relatif kecil, yaitu 62 juta lembar, sehingga sahamnya tidak likuid.
Menurut pengamat pasar modal, Teguh Hidayat, selama ini, rata-rata volume transaksi saham INTA mencapai 7 juta lembar per hari alias tidak likuid. Pada hari tertentu, jumlah saham INTA yang berpindah tangan di market mencapai 40 juta lembar.
"Likuditas INTA yang encer tersebut baru terjadi sejak setahun lalu, tepatnya Mei 2010," ujar Teguh dalam riset yang dipublikasikan pada Juni 2011.
Menariknya, lanjut Teguh, saat itu pula saham INTA mulai bergerak naik dengan cepat dari Rp700 menjadi Rp3.850 alias 450% hanya dalam tempo setahun. Sebelum itu, INTA hampir tidak pernah bergerak di kisaran Rp600-700. Secara fundamental, kenaikan spektakuler tersebut sebenarnya masih wajar mengingat kinerja INTA memang bagus.
"Tapi kalau dilihat dari sahamnya yang seharusnya tidak selikuid itu, maka mungkin kenaikan INTA tidak didorong mekanisme pasar melainkan perusahaan ingin stock split," telitinya.
Kabar baiknya lagi, selama ini INTA belum pernah bermasalah dengan utang yang dimilikinya. Hal ini tercermin dari laba bersih yang terus naik dalam lima tahun terakhir. Selain itu, INTA juga belum pernah menggelar rights issue walaupun baru-baru ini perseroan berencana hendak menggelar hajatan itu sebesar Rp1 triliun.
Secara fundamental, INTA cukup menarik setelah perusahaan mencetak laba bersih Rp35 miliar pada triwulan I-2011, naik 163,8% dibanding periode yang sama tahun 2010. Pendapatannya juga naik 114,5%. Pada harga Rp690, PER-nya cuma 10,5 kali, relatif murah bila dibandingkan dengan PT United Tractor.
Pendapatan INTA berdasarkan kontribusi anak perusahaan, masing-masing PT Intan Baruprana Finance 2%, PT Terra Factor Indonesia (konsolidasi dengan PT Karya Sumber Alam Lestari) 6%, dan PT Columbia Chrome Indonesia 3%.
Tahun ini, INTA memproyeksikan kenaikan laba bersih hingga 88% menjadi Rp155,82 miliar dari laba bersih 2010 yang sebesar Rp83,08 miliar. Proyeksi kenaikan ini sejalan dengan target penjualan perseroan yang mencapai 1.293 unit, atau naik 555% dari penjualan sebelumnya hanya 835 unit.
Ke depan, saham INTA diterawang akan bergerak 'sideway', bahkan turun. Secara teknikal, INTA juga kemungkinan akan turun sampai Rp500, namun baru naik kembali.
"Jadi kalau tertarik, maka mungkin sebaiknya tunggu dulu ke harga wajar," sarannya.











