IMQ, Jakarta —
Selama ini, sektor tambang selalu membawa angin segar bagi pergerakan IHSG. Sayang, kekuatannya tidak berlaku untuk pekan ini. IHSG sepekan telah terjerembab 65,34 poin dan ditutup di level 3.722,30 dibandingkan penutupan pekan lalu pada level 3.787,6.
Menurut penerawangan pengamat pasar modal sekaligus berprofesi sebagai wealth motivator, Jimmy Dimas Wahyu, indeks sepekan terhantam oleh berita-berita eksternal, sebab sentimen positif dalam negeri sendiri tidak mampu mencegah bencana dari luar.
"Akhirnya, membuat indeks jungkir balik lantaran tidak ada sama sekali darah segar dari internal," lirih JDW, sebutan akrabnya, kepada IMQ, Sabtu (18/6).
Ia merinci beberapa hal yang telah terjadi selama sepekan, khususnya faktor eksternal, yang meliputi:
Faktor Eksternal
1. Penjualan ritel AS mengalami penurunan pertama kali dalam 11 bulan terakhir walaupun tidak seburuk yang diperkirakan
2. Federal Reserve berencana untuk mengakhiri pembelian obligasi sebesar $600 miliar pada Juni
3. Data BPS AS yang menunjukkan kenaikan pada harga produsen 0,2% pada Mei (0,3% pada April) dan core inflation 0,2% (0,3% pada April) sesuai dengan estimasi
4. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penurunan klaim tunjangan pengangguran sebanyak 16.000 menjadi 414.000 lebih baik dari perkiraan ekonom 421.000
5. Kekhawatiran restrukturisasi utang Yunani setelah pertemuan Menteri Keuangan Uni Eropa dan gejolak dalam negeri Yunani dengan adanya wacana pembentukan kabinet baru oleh Perdana Menteri George Papandreou
6. Ancaman lembaga pemeringkat dunia Moody’s yang akan men-downgrade bank-bank besar di Prancis
7. Inflasi China mencapai 5.5% pada bulan Mei dari sebelumnya 5,3% di bulan April
8. Standard & Poor telah melakukan downgrade hutang jangka panjang Yunani menjadi CCC dari sebelumnya B dengan outlook negatif
Adapun sektor yang mengalami penurunan selama sepekan ini dipimpin oleh sektor pertambangan (Mining) 135,21 poin (4,13%), pertanian (Agriculture) 90,02 poin (3.83%), properti (Property) 7,09 (3,40%), infrastruktur (Infrastructure) 13,62 (1,77%), perdagangan (Trade) 8,43 poin (1,65%), keuangan (Finance) 7,54 poin (1,53%), konsumen (Consumer) 7,74 poin (0,69%), manufaktur (Manufacture) 0,19 (0,02%).
Sedangkan sektor-sektor yang berhasil mengalami kenaikan dalam sepekan ini adalah aneka industri (Miscelaneous) 6,49 (0,62%) membukukan kenaikan terbesar, serta industri dasar (Basic Industry) naik tipis 0,77 (0,19%).
Untuk pergerakan IHSG pada pekan ketiga di bulan Juni, ia meramal cenderung menguat pada level 3.794,53-3.813,05. Adapun koreksi maksimal IHSG berada pada level 3.690,95-3.707,79.
"Secara fundamental ekonomi Indonesia tidak mengalami masalah, namun kita perlu mencermati informasi perihal pemulihan ekonomi di AS serta kepastian masalah utang di Eropa," tandasnya.











