IMQ, Jakarta —
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) merupakan salah satu perusahaan agri-food terbesar dan paling terintegrasi di Indonesia. Kegiatan utama perseroan meliputi kegiatan usaha pembuatan pakan ternak, pembibitan ayam, pengolahan unggas dan budidaya pertanian.
Dengan menghubungkan operasi hulu dan hilir, perseroan mampu menjamin keluarnya kualitas unggul di setiap tingkatan mulai dari pakan hingga nilai tambah produk makanan.
Kelebihan ini membuat perseroan kompetitif dan teritegrasi sehingga membawa manfaat perlindungan terhadap volatilitas harga dan tingkat tinggi biosekuriti, sedangkan skala ekonomisnya telah membuat Japfa menjadi salah satu produsen pangan dengan biaya terendah di Indonesia.
Sepanjang kuartal I tahun ini perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp263 miliar atau meningkat 58% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp166,4 miliar. Pencapaian tersebut melampaui konsensus yang sebesar Rp180,62 miliar (+45%).
Sementara untuk laba kotor dan laba usaha masing‐masing meningkat sebesar 22% dan 45% dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp768,5 miliar dan Rp368,7 miliar.
Analis eTrading Securities Wisnu Karto dalam riset yang dikutip IMQ di Jakarta, Jumat (17/6), mengatakan perseroan terus memfokuskan bisnis intinya. Hal itu terlihat dari dilakukannya penjualan 100% saham perseroan di PT So Good Food yang bergerak di bidang manufaktur dan distribusi makanan berlabel.
“Ini dilakukan agar dapat memfokuskan diri pada bisnis intinya, yaitu pakan ternak dan Day Old Chicken (DOC),” ungkapnya.
Selain itu untuk menunjang kegiatan usahanya perseroan juga membangun dua pabrik pakan ternaknya di Purwakarta, Jawa Barat dan Grobokan, Jawa Tengah, yang rencananya akan mulai beroperasi pada pertengahan 2011.
“Dengan dibangunnya pabrik tersebut ke depannya tentunya mampu memberikan tambahan produksi pakan ternak sebesar 15% dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,39 juta ton," ungkapnya.
Untuk meningkatkan kegiatan usahan dan ekspansinya tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp1,05 triliun, di mana sumber dana belanja modal tersebut 60% berasal dari internal sementara 40% sisanya diperoleh dari pinjaman.
“Kami melihat harga saham perseroan yang saat ini diperdagangkan merupakan harga wajar, meskipun saat ini saham perseroan diperdagangkan pada PER 8,87 di bawah rata‐rata industrinya yang saat ini sebesar 10,05x. Hal ini disebabkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih per saham tahunan perseroan yang juga berada di bawah rata‐rata industrinya,” tukasnya.
Pada perdagangan kemarin (16/6), saham PJFA ditutup di level Rp4.475 per saham, dengan volume sebanyak 3,53 juta lembar saham senilai Rp15,68 miliar.











