IMQ, Jakarta —
Tingginya permintaan minyak kelapa sawit (CPO) di pasaran dunia diprediksi akan mendorong harga minyak sawit meningkat. Hal ini memberikan peluang bagi perusahaan perkebunan seperti PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) untuk menggenjot kinerjanya.
Permintaan crude palm oil (CPO) di pasar dunia akan meningkat, demi mensubstitusi minyak bumi yang kini terus naik harganya. Untuk itu, SGRO pun fokus menggenjot produksinya. Hal ini sejalan dengan produksi CPO Indonesia yang akan mencapai 25,4 juta ton pada 2011.
Sepanjang kuartal I 2011 emiten perkebunan ini mencatatkan penjualan CPO mencapai 72.131 ton atau naik 87% senilai Rp602,78 miliar.
Sementara harga jual rata- rata CPO naik 27,7% di kuartal I 2011 menjadi Rp8,357 per kg dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan inti sawit melambung 112% menjadi Rp 6.675/kg.
Selain itu, pada tahun ini perseroan juga akan menginvestasikan dana senilai Rp1 triliun, di mana dana tersebut akan digunakan untuk menambah luas lahan tertanam sebesar 10 ribu hektar dan pemeliharaan kebun sawit. Investasi per satu ha mencapai Rp 50 juta, sehingga totalnya mencapai Rp500 miliar.
Sementara total luas lahan perseroan hingga Maret 2011 mencapai 205.688 ha, dari jumlah itu luas lahan tertanam mencapai 104.480 ha.
Sebanyak 78.518 ha merupakan lahan menghasilkan, sementara sisanya belum menghasilkan. Luas kebun inti menghasilkan mencapai 36.509 ha, sedangkan kebun plasma mencapai 41.983 ha. Kebun sawit berlokasi di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Analis eTrading Securities, Linda Lauwira dalam risetnya yang dikutip IMQ mengatakan Earnings Per Share (EPS) perseroan sepanjang tahun ini diprediksi Rp400,68. Jika mengikuti harga penutupan maka PER perseroan adalah 8,6x.
“Hal tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan saham lainnya dibandingkan dengan industri sejenis,” ungkapnya.
Sementara itu, Analis Mandiri Sekuritas Hariyanto Wijaya menyatakan laba bersih Sampoerna Agro selama kuartal pertama mengalahkan prediksinya dan konsensus hal ini karena lebih tingginya produksi CPO dan margin kotor.
“Lonjakan margin kotor perseroan yang mencapai 43,7% tersebut ditopang meningkatnya pasokan TBS dari kebun inti,” ungkapnya.
Dengan kinerja tersebut, analis merekomendasikan “Buy” untuk saham SGRO dengan target harga (TP) senilai Rp3.926 per saham.
Sebagai gambaran, pada penutupan perdagangan kemarin (14/6) saham perseroan ditutup di level harga Rp3.375 dengan volume transaksi 2,90 juta dengan nilai Rp9,78 miliar.











