Search:
Wednesday, Sep-23 2020 07:44 WIB
  • AGRI 1,156.960 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 702.870 0.000 (0.000%)
  • BISNIS-27 434.410 0.000 (0.000%)
  • COMPOSITE 4,934.090 0.000 (0.000%)
  • CONSUMER 1,846.210 0.000 (0.000%)
  • DBX 924.800 0.000 (0.000%)
  • FINANCE 1,061.670 0.000 (0.000%)
  • I-GRADE 130.840 0.000 (0.000%)
  • IDX30 413.420 0.000 (0.000%)
  • IDX80 108.090 0.000 (0.000%)
  • IDXBUMN20 272.660 0.000 (0.000%)
  • IDXG30 115.380 0.000 (0.000%)
  • IDXHIDIV20 370.720 0.000 (0.000%)
  • IDXQ30 120.920 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-COM 211.120 0.000 (0.000%)
  • IDXSMC-LIQ 236.810 0.000 (0.000%)
  • IDXV30 102.470 0.000 (0.000%)
  • INFOBANK15 776.880 0.000 (0.000%)
  • INFRASTRUC 813.190 0.000 (0.000%)
  • Investor33 360.090 0.000 (0.000%)
  • ISSI 144.760 0.000 (0.000%)
  • JII 523.910 0.000 (0.000%)
  • JII70 177.570 0.000 (0.000%)
  • KOMPAS100 966.070 0.000 (0.000%)
  • LQ45 756.380 0.000 (0.000%)
  • MANUFACTUR 1,177.640 0.000 (0.000%)
  • MBX 1,366.800 0.000 (0.000%)
  • MINING 1,340.550 0.000 (0.000%)
  • MISC-IND 849.130 0.000 (0.000%)
  • MNC36 270.280 0.000 (0.000%)
  • PEFINDO25 258.890 0.000 (0.000%)
  • PROPERTY 342.140 0.000 (0.000%)
  • SMinfra18 233.320 0.000 (0.000%)
  • SRI-KEHATI 303.610 0.000 (0.000%)
  • TOTAL_MARKET 4,934.090 0.000 (0.000%)
  • TRADE 626.540 0.000 (0.000%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
Menebak Prospek Saham Elnusa
Published: 18 Jan 2016 04:34 WIB


IMQ, Jakarta —  IHSG memulai perjalanannya pada 2016 ini dengan kurang mulus. IHSG masih turun 2% secara year to date.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menuturkan, penurunan bursa Indonesia masih jauh lebih baik dibanding penurunan bursa China dan Amerika, yang masing-masing turun 16,7 dan 6,2%, namun beberapa saham di sektor migas dan tambang sudah jatuh lebih dalam.

Salah satunya Elnusa (ELSA), yang terakhir ditutup di posisi 200 atau sudah turun hampir 20% sejak awal tahun, dan cukup jelas bahwa penyebabnya adalah penurunan harga minyak yang sekarang sudah menyentuh US$30 per barel.

Saham-saham perusahaan migas skala global, seperti Royal Dutch Shell, Exxon Mobil, BP, Chevron, Total SA, semuanya juga tumbang. Menariknya, kemarin Berkshire Hathaway menambah kepemilikan di saham Phillips 66, sebuah perusahaan minyak kelas menengah yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat.

ELSA tidak memproduksi minyak, namun menyediakan layanan land seismic, drilling, fabrication dan sebagainya bagi perusahaan-perusahaan minyak. Beberapa pelanggan ELSA adalah Pertamina Hulu Energi, Pertamina EP, Medco, Pertagas, Total Indonesie, hingga Chevron Pacific Indonesia.

Khusus untuk jasa land seismic, ELSA merupakan salah satu pionir yang sudah berpengalaman sejak tahun 1974, dan saat ini berstatus sebagai market leader di tanah air.

Namun dibanding beberapa emiten sejenis seperti Ratu Prabu Energi (ARTI), Benakat Integra (BIPI), Energi Mega Persada (ENRG), hingga Medco (MEDC), maka ELSA memiliki kinerja fundamental yang relatif baik, meski tetap saja masih di bawah standar ‘baik’ versi penulis.

"Kendati demikian, dengan terus menurunnya harga minyak yang diiringi oleh penurunan harga saham dari perusahaan-perusahaan terkait, maka jika Anda tertarik untuk mengikuti langkah Buffett yang justru masuk ke sektor perminyakan, pilihan saham yang paling masuk akal ya ELSA," tutur Teguh melalui riset edisi Januari 2016.

Dan dengan PBV 0,6 kali pada harga 200, maka jika nanti harga minyak rebound sedikit, harusnya Elnusa bisa dengan mudah naik.

"Hanya saja, kalau untuk investasi serius untuk jangka panjang, maka ELSA terbilang meragukan," ujarnya.

Sejak 2010 sampai sekarang, pendapatan perusahaan stagnan di Rp4 triliunan per tahun, alias tidak naik-naik, dan kenaikan laba ELSA lebih didorong oleh efisiensi kinerja, tapi bahkan sampai sekarang margin labanya masih di bawah 10%, dan itu terbilang sangat rendah untuk ukuran perusahaan jasa.

Lalu seiring dengan penurunan harga minyak sejak awal 2015 lalu, pendapatan ELSA tertekan di mana hingga kuartal III 2015, angkanya baru tercatat Rp2,6 triliun, sehingga ada kemungkinan bahwa untuk sepanjang 2015 pendapatan ELSA akan tercatat di bawah Rp4 triliun.

Pihak manajemen sendiri memperkirakan bahwa laba ELSA hanya akan mencapai Rp350 miliar untuk 2015, atau turun signifikan dibanding tahun 2014 yang sebesar Rp412 miliar.

"Namun kata kuncinya di sini adalah bahwa kinerja perusahaan ikut turun seiring dengan penurunan harga minyak. Dan berhubung harga minyak sekarang tinggal US$30 per barel, maka ya wassalaam," ujarnya.

Terkait sahamnya sendiri, pada 2011 lalu, yakni ketika harga minyak lagi tinggi-tingginya di level US$120 per barel, ELSA justru menderita kerugian Rp43 miliar. Namun, memasuki 2012 hingga 2014, perolehan laba perusahaan terus membaik hingga mencapai Rp420 miliar pada akhir 2014.

Alhasil, sahamnya juga terus naik sampai sempat menyentuh posisi 700, alias mencetak gain lebih dari tiga kali lipat.

Memasuki 2015, secara efisiensi kinerja ELSA mungkin sudah lebih baik, namun masalahnya masih terletak di ketidakmampuan perusahaan untuk meningkatkan pendapatan.

Ingat bahwa penuruan harga minyak, yang sampai awal 2016 ini masih terus terjadi, bisa berarti bahwa kinerja ELSA untuk awal tahun ini juga akan kembali turun dibanding 2015.
Author: Susan Silaban
-
POPULAR NEWS