IMQ, Jakarta —
Bisnis bahan kimia di Tanah Air ternyata cukup menggiurkan. Sebut saja, PT Lautan Luas Tbk yang telah menuai untung hingga berkali-kali lipat sejak 14 tahun silam memproklamirkan sahamnya di lantai bursa.
Saat ini, LTLS telah berkembang menjadi distributor dan produsen bahan kimia khusus dan dasar, bekerja dengan lebih dari 100 prinsipal internasional, memasok lebih dari 1.000 produk kimia dan melayani sekitar 2.000 industri pengguna akhir di seluruh Indonesia dan wilayah Asia-Pasifik.
LTLS sebelumnya dikenal sebagai anak Andil Maskapai Dagang dan Industri Lim Teck Lee dan berubah nama menjadi Lautan Luas. Kini, termasuk perusahaan bahan kimia terdepan di Indonesia.
Kunci kekuatan LTLS terdapat pada lini distribusinya. Distribusi merupakan bisnis utama dan pertama yang menjadi bagian dari pusat perusahaan. Lini ini memberikan kontribusi hampir 60% dari total pendapatan LTLS sisanya manufaktur serta support & services yang masing-masing menyumbang 20%.
Menurut analis e-Trading Securities, Budhy Siallagan, pada triwulan pertama 2011, distribusi mampu mendongkrak pendapatan LTLS dengan kontribusi hingga 54%, manufaktur 33%, kemudian support & services 24%.
"Ternyata, lini distribusi ini dihasilkan dari pengiriman 'high speed diesel' pertambangan yang memberikan bobot cukup besar untuk pendapatan sekitar 20%," tulis Budhy dalam risetnya 1 Juni 2011 kepada IMQ.
Bila dicermati, lanjutnya, produk distrbusi yang dipasarkan oleh LTLS ke beberapa pembeli masih didominasi oleh sektor perkebunan dan pertambangan. Melihat perkembangan komoditas dalam dan luar negeri, dipastikan LTLS mengalami pertumbuhan yang cukup potensial.
"Namun, mengingat sebagai besar produk tersebut adalah barang impor, maka exchange rate-nya akan banyak berpengaruh juga," lirihnya.
Ia optimistis hingga akhir tahun lini distribusi masih menguasai pendapatan perseroan dengan kontribusi 60%, atau Rp2,310 triliun, disusul manufaktur 32%, atau Rp1,260 triliun, serta support & services hanya 8%, atau Rp519 miliar.
"Sehingga diproyeksikan pendapatan LTLS tahun ini mencapai Rp4,090 triliun, dengan laba bersihnya Rp132 miliar," hitungnya.
Bila dihitung dengan membandingkan dari rata-rata PER industri, maka diperoleh P/E LTLS setara dengan P/E rata-rata sekitar 6,9 kali. Dengan menggunakan estimasi pertumbuhan laba bersih yang meningkat 22% dan pendapatan yang tumbuh 5%, apabila diperdagangkan dengan harga saham Rp950 maka diperoleh PE 7 kali.
"Kami meromendasikan beli dengan target harga Rp1.000," sarannya.











