IMQ, Jakarta —
Bila Anda penggemar es krim, tentunya tak asing dengan nama Magnum, es krim racikan Unilever. Tingginya penjualan Magnum tentunya menjadi berkah bagi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), yang berimbas pada kinerja sahamnya yang melambung.
Magnum pertama kali mejeng di Tanah Air pada Desember tahun lalu. Salah satu merek es krim Wall's ini awalnya meluncurkan varian Wall's Magnum Chocolate Truffle. Kini, sudah ada tiga varian es krim Magnum, yakni Magnum Classic, Magnum Almond dan Magnum Choco Capucino.
Menurut Kepala Riset MNC Securities, Edwin J. Sebayang, saat ini marjin terbesar Unilever dari divisi es krim sebesar 50%, sedangkan untuk divisi lainnya rata-rata marjin berkisar 10-20%.
Unilever berdiri pada 1933, dengan memproduksi sekaligus mendistribusi produk
sabun, deterjen, margarin, saus, makanan kecil, es krim, minuman dan kosmetik. Perseroan memiliki produk dengan merek-merek terkenal seperti Dove, Lux, Taro, Bango, Molto, Rexona, Sari Wangi, Paddle Pop dan Wall’s.
Untuk menghasilkan rasa yang bervariatif, Unilever menggunakan bahan-bahan baru yang dinamakan protein pembentuk es (ISP). Protein ini memungkinkan untuk membuat es krim dan es logi yang rendah lemak, garam dan kalori serta pada waktu yang bersamaan menambah rasa buah.
"Kekuatan ini yang akhirnya memberikan kontribusi untuk pendapatan perseroan semakin mengkilat," demikian riset yang dipublikasikan 3 Juni 2011.
Unilever mencatat konsumsi es krim di Indonesia baru 250 mililiter per orang per tahunnya. Unilever menciptakan strategi pemasaran untuk Magnum sesuai dengan citra sebagai es krim premium dengan membidik pasar konsumen usia 25-35 tahun. Unilever berencana meningkatkan produksi Magnum tahun ini hingga 100%.
"Bahkan, perseroan rela berinvestasi sekitar 116,67 juta euro untuk membangun pabrik guna meningkatkan produksi, khususnya bisnis home & personal care (HPC) dan food & ice cream," terangnya.
Unilever memiliki pabrik yang berlokasi di Cikarang dan Surabaya dengan total jumlah karyawan mencapai 3.013 orang. Pemegang mayoritas saham perseroan adalah Mabivel BV Rotterdam sebesar 85%.
Unilever memperkirakan laba bersih setelah pajak untuk 2011-2012 meningkat 3,4-6,6% dengan pertumbuhan penjualan sekitar 22,9% pada tahun ini. Pertumbuhan ini sejalan dengan rencana Unilever yang akan menaikkan harga jual HPC berkisar 8-12%.
"Target kami harga saham bisa mencapai Rp17.100 berdasarkan PE dan P/BV masing-masing 4,4 kali dan 21,20 kali," pungkasnya.











