IMQ, Jakarta —
PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) sebagai pemilik sekaligus operator kapal berbendera Indonesia terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah kapal dan DWT. Otomatis, harga saham pun terbang layaknya lompatan eks bintang basket Chicago Bulls Michael Jordan.
BULL mengoperasikan 21 kapal berbendera Indonesia dengan kapasitas tonase sebesar 633.869 DWT. Dengan armada yang terdiversifikasi, BULL berfokus pada sektor energi seperti tanker minyak dan gas, tanker LNG dan FPSO/FSO, di mana tidak semua segmen mempunyai korelasi positif satu sama lain.
Dengan berbagai jenis tipe, ukuran dan spesifikasi yang beragam, dapat meminimalkan risiko yang timbul dari fluktuasi tingkat permintaan atas tanker. BULL memiliki awak kapal terbesar dan berkualitas tinggi, dengan sekitar 1.800 jumlah anggota awak kapal aktif yang tersedia, di mana semuanya merupakan WNI.
"Dengan demikian menjadikan BULL sebagai pemimpin pasar di industri pelayaran energi Indonesia," demikian riset analis e-Trading Securities, Sally Agustina kepada IMQ, Senin (6/6).
Dengan pengalaman rata-rata 20 tahun yang dimiliki oleh Tim Management di bidang industri pelayaran internasional dan didukung dengan implementasi atas Asas Cabotage, menjadikan peluang bagi BULL untuk dapat berkembang dan bersaing di pasar pelayaran Indonesia amat terbuka.
BULL mengeluarkan strategi dengan menyewakan kapal berdasarkan tiga jenis kontrak yang berbeda, yakni time charter (TC) dengan sewa kapal berdasarkan waktu, contrak of affreightment, di mana kontrak pengangkutan untuk volume angkutan tertentu serta spot charter untuk penyewaan sekali pelayaran.
Per 28 Februari 2011, BULL menyewa 6 buah kapal milik BLTA dengan bareboat charter. BULL senantiasa mengembangkan armadanya setiap tahun. Peningkatan armada kapal dan kapasitas menjadikan BULL sebagai pemilik/operator kapal berbendera Indonesia terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah kapal dan DWT (Drewy Report, Maret 2011).
"BULL mengadakan perjanjian non-kompetensi dengan BLTA dan pemegang saham pengendali dengan menempatkan batasan geografis dan bisnis untuk kedua belah pihak," paparnya.
Selain itu, dengan adanya Asas Cabotage, maka BULL diuntungkan dengan adanya premium atas tarif tambang domestik didukung dengan keunggulan kapal yang dimilikinya.
Untuk itu, BULL akan memaksimalkan beroperasinya FPSO Brotojoyo setelah dilakukan proses upgrade pada Juni-Desember 2010 dan MT Pradapa dikonversi menjadi FSO pada November 2010 hanya 38 hari 2011, diharapkan dapat menyumbang peningkatan pendapatan di 2011.
"Saham BULL berpeluang meningkat hingga akhir tahun ini," pungkasnya.











