IMQ, Jakarta —
Sebagai salah satu negara produsen batubara di dunia yang mengikuti produsen lainnya seperti China, Amerika Serikat, India, Australia, dan Rusia, tentunya memberikan ruang bagi perusahaan batubara seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) untuk memacu produksi dan melakukan terobosan ekspansi.
Perseroan memiliki total kapitalisasi pasar saat ini mencapai Rp76 triliun terintegrasi dengan beberapa usaha yang meliputi perdagangan batubara, jasa kontrak pertambangan, pemuatan kapal tongkang dan jasa, infrastruktur batubara dan logistik.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Christine Salim melihat ekspansi yang akan dilakukan ADRO ke depan akan semakin agresif. Hal ini karena perseroan melalui anak usahanya, PT Adaro Indonesia, telah memperoleh fasilitas pinjaman perbankan senilai US$ 750 juta dengan jangka waktu 10 tahun dari total komitmen yang diperoleh sebenarnya mencapai US$1 miliar. Namun perseroan hanya mencari fasilitas pinjaman senilai US$750 juta.
Selain itu, anak usaha lainnya, PT Saptaindra Sejati, juga mendapat pinjaman senilai US$400 juta pada Februari 2011 lalu dengan bertenor tujuh tahun.
Pinjaman tersebut akan digunakan untuk mendanai belanja modal (capital Expenditure/Capex) dan ekspansi melalui akuisisi yang dilakukan perseroan.
"Dengan tambahan fasilitas pinjaman ini, kami melihat EBITDA perseroan naik lebih lanjut ke level 1.64X, namun masih di bawah persyaratan maksimum 3,5x," tukasnya dalam riset yang dikutip IMQ di Jakarta.
Christine menambahkan adanya pengumuman dari pemerintah yang menetapkan konsorsium Adaro-J Power-Itochu sebagai pemenang lelang proyek pembangunan PLTU Jawa Tengah sebesar 2x1.000 megawatt dengan nilai proyek sekitar Rp30 triliun, menyusul hasil evaluasi final terhadap dokumen penawaran yang dirampungkan 1 Juni 2011, tentunya juga memberikan kesempatan bagi perseroan untuk meningkatkan pertumbuhan volume batubara.
“Dengan harga batubara yang terus mengalami penguatan dan rencana perseroan untuk melipatgandakan produksi hingga mencapai 80 juta ton pada 2014, kami melihat perseroan bisa mencapai posisi tersebut,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan komitmen pinjaman yang diperoleh perseroan menunjukkan Adaro tengah menyiapkan ekspansi besar-besaran. Sebab, penggunaan dana tidak hanya untuk capex, melainkan membiayai transaksi akuisisi.
“Ekspansi produksi batubara oleh Adaro tersebut berpotensi mengembalikan perseroan sebagai emiten berkapitalisasi pasar terbesar di sektor batubara,” tukasnya.
Berdasarkan konsensus, analis merekomendasikan "Buy" untuk saham ADRO dengan target harga (TP) Rp2.800 per saham, di mana nilai pasar saat ini saham ini mengimplikasikan 14.1x . PER'12.
Pada penutupan perdagangan, Rabu (1/6), saham ADRO ditutup di level Rp2.450 per saham, dengan volume sebanyak 59,44 juta lembar saham senilai Rp144,49 miliar.











