IMQ, Jakarta —
Sebagai elemen penting penggerak sektor industri, bisnis tambang memberikan keuntungan signifikan bagi PT International Nickel Tbk (INCO) yang menghasilkan nikel dalam matte yaitu produk setengah jadi yang diolah dari bijih laterit di fasilitas pertambangan dan pengolahan terpadu Sorowako, Sulsel.
Seluruh produksi perseroan ini dijual dalam bentuk dolar Amerika Serikat berdasarkan kontrak-kontrak jangka panjang untuk dimurnikan di Jepang.
Sebagai gambaran, hingga kuartal I tahun ini saja, INCO berhasil membukukan laba bersih sebesar US$112 juta atau melesat 47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$76,2 juta.
Seiring kenaikan laba bersih, pendapatan perseroan pun tumbuh 26% menjadi US$322 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro dalam risetnya menjelaskan hasil yang diperoleh raksasa tambang nikel ini sepanjang kuartal I lalu sejalan dengan pasar dan proyeksi yang dilakukan pihaknya.
"Pertumbuhan kinerja pendapatan dan laba bersih INCO terutama didukung oleh harga rata-rata penjualan (ASP) nikel yang tinggi, meski produksi sepanjang kuartal I lebih rendah sebesar 17% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya," ungkapnya seperti yang dikutip IMQ.
Seiring hal itu, perseroan juga mengumumkan pengurangan volume produksi yang disebabkan akibat gempa bumi dan badai petir yang membuat peleburan di Sorowako terganggu.
“Namun, rendahnya biaya energi telah mengompensasi volume produksi yang rendah sehingga margin perseroan secara keseluruhan membaik,” terangnya.
Selain itu, didukung kondisi proyek pembangunan pembangkit listrik Bendungan Karebbe di Sulawesi Selatan yang telah rampung hingga 87% dan perseroan telah memastikan proyek senilai US$410 juta akan tuntas pada semester II tahun ini, diprediksi akan mengurangi biaya produksi perseroan secara keseluruhan sekitar 6%.
“Meski, kami melihat perseroan belum akan dapat beralih dari energi panas untuk listrik tenaga air segera, namun secara keseluruhan diperkirakan akan mengurangi beban produksi," tukasnya
Ke depannya, lanjutnya, diprediksi sepanjang tahun ini harga nikel akan mengalami kenaikan dengan asumsi harga nikel dari US$7.6/LB menjadi US$11/LB.
"Berdasarkan hal itu, kami merekomendasi beli untuk saham INCO dan menaikkan target harga (TP) mencapai Rp5.950 per saham dari sebelumnya Rp4.700 per saham. Hal tersebut mencerminkan 10.35x - PE'11F 11.7x - 12F,” pungkasnya.
Pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (30/5), saham INCO ditutup di level Rp4.850 per saham, dengan volume sebanyak 2,38 juta lembar saham senilai Rp11,56 miliar.











