IMQ, Jakarta —
Kalangan pelaku usaha optimistis bisnis properti di tahun kelinci berprospek cerah sebab didukung oleh iklim ekonomi yang mulai kondusif. Sebut saja, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) telah mendulang keuntungan hingga Rp191 miliar pada triwulan pertama.
Baru-baru ini, BSDE telah menyelesaikan proyek pertama seluas 1.500 hektar dan akan membangun tahap dua seluas 2.000 ha dengan dana Rp15 triliun. Perkiraan penyelesaiannya pada 2020 mendatang.
Dalam waktu dekat ini, BSDE berencana meluncurkan 10 subklaster perumahan tahap II di kota mandiri BSD City dengan menganggarkan investasi Rp400-500 miliar. Adapun 10 subklaster tahap II BSD City seluas 2.300 ha ini membidik segmen pasar menengah hingga menengah ke atas dengan harga jual Rp700 juta-Rp3 miliar per unit. Tentunya, klaster maupun perumahan yang agresif dibangun memberikan tambahan bagi kas BSDE.
Menurut periset MNC Securities Reza Nugraha, BSD City bakal menjadi kawasan pedestrian di kawasan BSD Barat. Pedestrian merupakan fasilitas penunjang yang penting karena BSD ingin menjadi contoh kota mandiri terpadu terbaik di Banten.
"Saat ini, kawasan yang dibangun oleh BSDE merupakan kota satelit yang berhasil dikembangkan dan dalamnya terdapat infrastruktur yang menunjang kegiatan bagi penghuninya," papar Reza dalam riset yang dirilis 24 Mei 2011.
Untuk memanfaatkan momentum bisnis properti, anak usaha Grup Sinarmas ini telah menganggarkan dana sekitar Rp1 triliun untuk mengakuisisi lahan seluas 300-400 ha di Serpong. Belum lagi, tingkat kebutuhan rumah di luar Jakarta yang terus meningkat, ditambah harga tanah di Jakarta sudah terhitung mahal.
Proyek BSDE di Serpong pun cukup banyak diminati karena akses jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR). BSDE menargetkan laba bersih hingga Rp700 miliar. Laba ini disumbang oleh penjualan sebanyak Rp4 triliun, dengan target pendapatan usaha Rp2,7 triliun.
BSDE telah melakukan rights issue dan mendapatkan dana sebesar Rp4,98 triliun. Dana tersebut digunakan untuk akuisisi 85,3% saham PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) yang merupakan afiliasi perseroan sebesar Rp3,472 triliun atau sekitar 87,4% dari rights issue, penyertaan 55% saham PT Sinar Mas Wisesa (SMW) sebesar Rp387,1 miliar. Kemudian penyertaan 60% saham PT Sinar Mas Teladan (SMT) sebesar Rp500,9 miliar.
"Akuisisi tersebut akan memberikan tambahan kontribusi buat pendapatan perseroan hingga 20% dari total pendapatan sebelumnya," paparnya.
Ia memperkirakan P/BV 2011 BSDE sebesar 2,4 kali, dengan PE 21,2 kali dan EPS R47 per saham. "Kami menargetkan harga saham BDSE Rp1.100 per lembar," pungkasnya.











