IMQ, Jakarta —
Perlahan namun pasti. Kalimat ini pantas ditujukan kepada PT Indika Energy Tbk (INDY) yang telah mengantongi sejumlah nama perusahaan tambang batubara dan pelayaran untuk diakuisisi.
Baru-baru ini, perseroan dipastikan menjadi pengendali baru atas PT Mitra Bahtera Segara Sejati Tbk (MBBS), perusahaan pelayaran, dengan membeli 51% saham milik PT Patin Resources, Patricia Pratiwi Suwati Prasatya, dan Ingrid Ade Sundari Prasatya. Pembelian dilakukan melalui eksekusi hak (opsi beli).
Namun, status pengendali baru ini baru direalisasikan pada 180 hari setelah MBBS listing. INDY akan membeli saham milik Patin Resources sebanyak 981,265 juta lembar. Indika juga membeli saham milik Patricia Pratiwi Suwati Prasatya dan Ingrid Ade Sundari Prasatya masing-masing 275 juta lembar.
Bukan hanya itu, perseroan berhasil mengakuisisi 6 kuasa tambang batubara di Kalimantan senilai US$ 175 juta. Tambang yang diakuisisi terbagi dalam 6 Kuasa Pertambangan (KP) seluas 30 ribu hektar dengan cadangan batubara sebanyak 200-300 juta ton berkalori 5.000-6.000 kkal.
Periset Indopremier Securities, Albert Wicaksana Tjong menulis sejumlah akuisisi ini pasti meningkatkan produksi batubara dan efisiensi perusahaan. "Kami meramal target harga INDY Rp4.300, yang tercermin pada PER 2011 22x dan EV EBITDA 7x," papar Alber dalam risetnya baru-baru ini.
Sayang, sejumlah risiko harus dihadapi perseroan mulai dari keterlambatan pengerjaan proyek, persaingan ketat dalam industri rekayasan dan konstruksi, volatilitas harga batubara serta kurs rupiah. Semua risiko ini muncul lantaran lini bisnisnya berfokus pada pertambangan.
Bila dicermati, pertumbuhan INDY cukup dipengaruhi oleh keberhasilan PT Kideko Jaya Agung (KJA) yang menempatkan bisnisnya pada pertambangan batubara. "Nah, dengan akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) 99,55% dinilai strategis untuk mendongkrak kinerja perusahaan," ulasnya.
Perseroan cukup 'pede' KJA bisa memproduksi sebesar 29 juta ton dan dari PT Santan Batubara sekitar 2,5 juta ton. Memang, perseroan menargetkan produksi batubara dari dua anak perusahaannya sekitar 32 juta ton. Belum lagi, kemajuan pembangunan infrastruktur energi, lewat PT Cirebon Electric Power juga berdampak pada penguatan harga saham.
"Kami mengharapkan perubahan yang baik dalam skema pertambangan guna menekan biaya oeprasional sehingga bisa tetap profit," ujarnya.
Tahun ini, Indopremier memprediksi perseroan dapat mengantongi penjualan sekitar Rp4,649 triliun, dengan EBITDA mencapai 732,6 miliar. Artinya, laba bersih bisa terdongkarak hingga Rp2,743 triliun. Harga per per saham (EPS) sebesar Rp562,9.











