IMQ, Jakarta —
CEO McDonald's Corp. Jim Skinner menggelengkan kepalanya saat ditanya mengenai badut yang menjadi ikon rantai makanan cepat saji itu, Ronald McDonald, dan apakah dirinya telah ‘meracuni’ anak-anak dengan junk food.
Berbicara di sela RUPST McDonald’s di Chicago, Kamis (19/5), Skinner mengatakan bahwa iklan di media massa oleh sekelompok pegiat yang mendesak McDonald’s menghentikan promosi makanan cepat saji bagi anak-anak dan segera memensiunkan Ronald , telah menggalang dukungan terhadap perusahaan yang ia pimpin.
Malahan ada sekelompok orangtua dan konsumen yang meminta Skinner untuk mempertahankan hak-hak mereka untuk memilih. Artinya, mereka juga berhak untuk memilih makanan yang disajikan McDonald’s meski kelompok pegiat kesehatan menilai bahwa McDonald’s telah meracuni anak-anak dengan makanan sampah (junk food).
Kelompok yang dinamakan Corporate Accountability International meluncurkan iklan sehalaman penuh pada Rabu (18/5) yang mendesak McDonald’s memensiunkan Ronald karena dinilai telah mendorong kebiasaan makan tak sehat pada anak-anak serta memicu obesitas anak dan penyakit, seperti diabetes.
Dalam RUPST itu, para pemegang saham McDonald’s memutuskan untuk mempertahankan badut Ronald sebagai ikon McDonald’s.
Bahkan ketika Deborah Lapidus, seorang penggerak kelompok pegiat kesehatan itu, mengatakan bahwa McDonald’s perlu melakukan upaya politis untuk mengurangi pemasaran makanan tak sehat kepada anak-anak, Skinner menjawab bahwa yang soal pilihan.
"Kami yakin dengan proses demokratis dan begitu juga dengan pemerintahan kita," timpalnya, yang mendapat tepuk tangan dari para pemegang saham. "Ini soal pilihan, ini soal pribadi, dan hak individu untuk memilih,” tegasnya.
Skinner juga mendapat sambutan hangat ketika ia menyebut Ronald sebagai duta kebaikan dan ikon ini adalah wajah dari Ronald McDonald House Charities.
"Ia tidak mengiklankan makanan tak sehat kepada anak-anak," ujar Skinner. "Kami memberikan banyak pilihan yang cocok dengan gaya hidup aktif dan seimbang. Ini terserah mereka untuk memilih dan juga orangtua mereka untuk memilih, dan ini merupakan tanggungjawab mereka."











