IMQ, Jakarta —
Seperti belum puas dengan sejumlah aksi korporasinya selama ini, Grup Salim kembali menggelar IPO untuk salah satu anak usaha dari Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), yaitu Salim Ivomas Pratama. Ternyata, bisnis Salim Ivomas bukan hanya perkebunan kelapa sawit, tapi juga produk turunannya.
Salim Ivomas adalah salah satu anak usaha terbesar milik INDF, yang bergerak di bisnis kelapa sawit yang terintegrasi, mulai dari perkebunan hingga produk turunan CPO, seperti margarin, lemak nabati, dan minyak goreng.
"Anda tentu hapal dengan PP London Sumatra (LSIP), salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di BEI. Nah, SIMP ini adalah induk dari LSIP," demikian riset pengamat pasar modal, Teguh Hidayat, yang dipublikasikan 10 Mei 2011.
Bisa dikatakan Salim Ivomas isinya adalah LSIP, dan beberapa perusahaan di bidang pengolahan CPO menjadi produk turunannya. Selain bisnis kelapa sawit, SIMP juga punya bisnis di perkebunan karet dan tebu, dan produk turunannya. Namun, jumlahnya tidak terlalu banyak.
"Bila diurutkan kepemilikannya, maka silsilahnya Grup Salim punya perusahaan di Hong Kong dengan nama First Pacific Ltd (FPL). FPL adalah induk dari INDF, yang merupakan induk dari SIMP. Dan SIMP adalah induk dari LSIP," tuturnya.
Fundamental Salim Ivomas terbilang cukup baik. ROE-nya pada kuartal I 2011 mencapai 27,5%, hasil dari laba bersih sekitar Rp689 miliar, atau naik dua kali lipat dibanding periode sebelumnya, berkat harga CPO yang melambung tinggi pada awal 2011. Bahkan, utangnya pun tidak telalu tinggi dibandingkan dengan ekuitas, yaitu Rp11,4 triliun berbanding Rp10,4 triliun.
Intinya, lanjut Teguh, semakin fokus bidang usaha sebuah perusahaan, maka semakin baik sebab risiko usaha lebih teridentifikasi. Bila berinvestasi di LSIP, maka risiko investasi terbatas pada perkebunan kelapa sawit. Sementara, investasi di SIMP, maka risiko investasi juga meliputi risiko pada bisnis minyak goreng dan margarin.
"Kalau harga CPO turun, maka pendapatan LSIP dan SIMP akan sama-sama tertekan. Sementara kalau harga margarin yang turun, maka yang akan kena imbasnya cuma SIMP, sedangkan LSIP kemungkinan besar akan aman-aman saja," tuturnya.
Kabar baiknya, harga IPO relatif murah berkisar Rp1.069-1.700. Hal ini mencerminkan PER Salim Ivomas berada di level 6,1-9,8 kali.
Rencananya, dana hasil IPO yang akan diraup sekitar Rp3,34-5,37 triliun akan digunakan untuk 50% mengembangkan kelapa sawit dan 10% mengembangkan bisnis produk turunan CPO. Artinya, INDF dan LSIP akan memeroleh keuntungan dari IPO Salim Ivomas.
"Untuk long term bisa saja karena erat kaitannya dengan harga CPO," pungkasnya.











