IMQ, Jakarta —
Dengan berlakunya asas cabotage pada 2010 lalu telah memberikan dampat positif untuk sektor pelayaran di Tanah Air. Tak terkecuali PT Trada Maritime yang kini menguasai pangsa pasar jasa FSO di dalam negeri hingga 25%.
Baru-baru ini, TRAM menambah tujuh kapal tipe handymax dan panamax yang memiliki bobot 75 ribu DWT yang ditujukan untuk pengangkutan internasional. Harga ketujuh kapal ini berkisar US$20-30 juta yang diperoleh dari dana belanja modal sekitar Rp1,03 triliun.
Ternyata, penambahan kapal ini demi memenuhi asas cabotage yang diterapkan pemerintah pada Mei. Asas ini akan membuat perusahaan pelayaran nasional semakin bergeliat karena kapal berbendera asing sudah tidak diperbolehkan melakukan pelayaran di perairan Indonesia.
Menurut Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang, TRAM diuntungkan dengan diberlakukannya asas cabotage. Mengapa tidak, dengan penambahan kapal, TRAM semakin leluasa melakukan pengangkutan dalam dan luar negeri.
"Artinya, kinerja keuangan sudah dan akan terdongkrak di masa yang akan datang," tulis Edwin dalam riset 6 Mei 2011.
Hingga kuartal pertama di 2011 saja, TRAM telah membukukan peningkatan laba bersih hingga 51,37% menjadi Rp72 miliar, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp47 miliar. Hal ini didukung dari jasa pengangkutan perseroan yang naik 50,72% dari Rp95 miliar, kini Rp143 miliar.
Saat ini, TRAM mengoperasikan 40 unit kapal, di mana 36 unit merupakan milik perseroan dan sisanya milik pihak lain. Emiten ini mengoperasikan kapal berjenis floating storage offloading (FSO), tanker dan curah kering.
Selain itu, TRAM juga memiliki fokus pada jasa kontrak perminyakan. Di tengah tingginya harga minyak membuat peluang mendapatkan kontrak lebih tinggi dibandingkan kontrak sebelumnya.
"Pasti keuntungan TRAM berlipat ganda dan akan terlihat pada LK akhir tahun," paparnya.
TRAM pun dinyatakan calon pemenang lelang penyediaan kapal liquid cargo untuk angkutan minyak mentah dari perusahaan minyak nasional senilai Rp346 miliar. Kontrak pengangkutan ini berbentuk time charter (T/C) dengan jangka waktu kontrak selama 5 tahun dan dapat diperpanjang 2 tahun.
Untuk 2011, TRAM diperdagangkan pada PE 37 kali, dengan PBV 4,3 kali. Sedangkan EPS berada Rp12,5 per saham. "Target harga saham hingga 2011 mencapai Rp640 per lembar," pungkasnya.











