IMQ, Jakarta —
Kebutuhan batubara sebagai energi terus mengalami peningkatan, dan penggunaan bahan ini sangat penting sebagai penopang industri seperti pembangkit tenaga listrik, produksi baja, dan produksi semen.
Sebagai salah satu negara produsen batubara terbesar di dunia mengikuti produsen lainnya, seperti China, Amerika Serikat, India, Australia, dan Rusia, tentunya memberikan ruang bagi perusahaan batubara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) untuk memacu produksi dan melakukan terobosan baru dengan ekspansi pada proyek-proyek batubara.
Sepanjang kuartal I tahun ini perseroan memperoleh pendapatan bersih konsolidasi senilai US$757,2 juta meningkat 11,7% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama 2010 senilai US$678 juta.
Meski volume produksi dan penjualan perseroan turun masing-masing sebesar 6,8% dan 4,8%, kenaikan harga jual rata-rata batubara mereka sebesar 16,3% menyelamatkan kinerja keuangan Adaro, akibatnya, laba bersih emiten batubara ini naik 11,3% menjadi US$108,9 juta.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Christine Salim, mengatakan kenaikan laba bersih perseroan terutama disebabkan harga jual rata-rata (Average Sales Price/ ASP), selain itu laba selisih kurs sebesar US$8,7 juta membantu pencapaian laba tersebut, demikian juga dengan ketiadaan amortisasi goodwill dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar US$ 13 juta.
“Di sisi biaya, harga pokok penjualan meningkat sebesar 16,5% YoY (Year on Year) karena lebih tinggi dari yang direncanakan yaitu dari 5.0x ke 6.4x, selain itu tentunya jarak pengangkutan dan kenaikan harga BBM yang mengakibatkan pengeluaran biaya meningkat sebesar 27% YoY menjadi US$ 38.5/ton,” tukasnya dalam riset yang dikutip IMQ di Jakarta, Jumat (6/5).
Namun, dengan mempertimbangkan kinerja kuartal I/2011, Adaro berada pada jalur yang baik untuk mencapai perkiraan volume produksi ROM (run of mine) sebesar 47 juta ton, sedangkan harga jual rata-rata batubara diprediksi di tahun ini mencapai US$72,1/ton.
“Dengan harga batubara yang terus mengalami penguatan dan rencana perseroan untuk melipatgandakan produksi hingga mencapai 80 juta ton pada 2014, kami melihat perseroan bisa mencapai posisi tersebut,” tukasnya.
Sementara itu, Vice President Research and Analyst PT Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere, mengatakan melihat prospek ke depan saham-saham komoditas seperti batubara, Crude Palm Oil (CPO), semen dan masih akan terus berjaya.
“Saya melihat saham-saham komoditas terutama batubara dan CPO tetap akan menjadi primadona” ungkapnya.
Berdasarkan konsensus, analis merekomendasikan "Buy" untuk saham ADRO dengan target harga (TP) Rp2.800 per saham.
“Nilai pasar saat ini saham ini mengimplikasikan 14.1x . PER'12,” pungkasnya.
Pada penutupan perdagangan kemarin (5/5), saham ADRO ditutup di level Rp2.250 per saham, dengan volume sebanyak 235,2 juta lembar saham senilai Rp551,01 miliar.











