IMQ, Jakarta —
Mayoritas investor di BEI mengenal PT Indika Energy (INDY) sebagai perusahaan tambang batubara. Anggapan itu tak keliru, karena INDY memang memiliki saham di beberapa perusahaan batubara, namun operasional INDY lebih cocok dikategorikan sebagai perusahaan jasa tambang batubara.
Bisnis jasa layanan tambang milik INDY terbilang terintegrasi, alias dari hulu hingga hilir, dan tidak hanya fokus pada batubara saja. Selain menggali batubara, INDY juga membantu perusahaan batubara menjual batubaranya. Bahkan, INDY pun ikut serta menggali minyak bersama PT Pertamina, Hess, dan Chevron.
INDY memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi laut untuk batubara, minyak, dan berbagai hasil tambang lainnya. Salah satunya adalah Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS), yang kemarin menggelar IPO. Anak perusahaan yang lain, yaitu Petrosea (PTRO), bergerak di bidang mining engineering and service.
"Jadi, INDY sebenarnya tidak memiliki batubara,' ujar pengamat pasar modal Teguh Hidayat dalam riset yang dipublikasikan pada 19 April 2011.
Meski demikian, lanjutnya, INDY menaruh investasi pada beberapa perusahaan tambang batubara seperti PT Kideco Jaya Agung dan PT Santan Batubara, dan juga beberapa perusahaan perkapalan dan perdagangan batubara. Nilai kepemilikan INDY pada perusahaan-perusahaan tersebut semuanya di bawah 51%.
"Sehingga perusahaan-perusahaan tersebut tidak dikategorikan sebagai anak usaha INDY (jadi pada LK INDY, pendapatan Kideco, Santan, dan seterusnya tidak dikonsolidasikan dengan total pendapatan INDY)," paparnya.
Secara umum, kinerja INDY tidak terlalu istimewa untuk ukuran perusahaan batubara, karena memang INDY hanya sebagai jasa tambang batubara semata. ROE-nya cuma 14,2%. Namun, tidak menyebabkan saham INDY sepi peminat karena INDY cukup sering menggelar aksi korporasi. Contohnya IPO MBBS.
"Alhasil harga saham INDY waktu itu langsung naik ke Rp3.925 per saham dengan PER 26,5 kali," selorohnya.
Ia menerawang dalam jangka panjang saham INDY bisa naik secara konsisten karena perseroan memiliki kebijakan penempatan investasi yang cukup baik, yaitu hanya menempatkan investasi pada perusahaan yang kinerjanya bagus. Bahkan, kebijakan utang INDY pun dinilai baik.
"Contohnya, mereka lebih memilih utang obligasi luar negeri daripada uang bank untuk modal kerja, karena bunga lebih ringgan sekitar 8,5-9,8%, dibandingkan bank yang 10,12%," tulisnya.
Hanya saja, seiring dengan peningkatan INDY yang terbilang datar, maka kenaikan harga saham yang dijanjikan juga tidak terlalu besar. INDY juga memiliki PER 26,5 kali yang dikategorikan terlalu mahal.
"Tahun ini, saham INDY bisa naik hingga 35%-an dari posisinya di level Rp4.000," pungkasnya.











