IMQ, Jakarta —
Patience is golden. Untaian kata yang tepat menggambarkan kondisi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah memasuki pekan ketiga April 2011 yang masih mondar-mandir di kisaran 3.700-3.760.
Untaian kata ini terlontar dari pengamat pasar modal, sekaligus berprofesi sebagai wealth motivator, Jimmy Dimas Wahyu Indraseno, dalam perbincangannya bersama IMQ, Minggu (17/4) malam.
JDW, begitu 'trademark'nya, mengungkapkan bila melihat pergerakan IHSG pekan lalu tercermin indeks mampu bertengger di level 3.700, walau hampir menyentuh level 3.600, tepatnya ditutup pada posisi 3.707,98 per 14 April lalu.
"Hanya butuh waktu saja untuk menyentuh 3.800. Hal ini tertekan lantaran regional saja bahkan tidak ada masalah yang berarti dari internal," tutur JDW.
Adapun faktor yang masih memengaruhi kondisi IHSG sepekan antara lain:
1. Berita positif dari AS terkait dengan kinerja manufaktur, kepercayaan konsumen dan data inflasi. Sedangkan berita negatifnya, beberapa laporan keuangan perusahaan yang turun misalnya, Bank of America dan JP Morgan.
2. Pertumbuhan ekonomi China lebih tinggi dari ekspektasi sekitar 9,5%, menjadi 9,8%. Inflasi China yang naik ke level 5,4% dari sebelumnya 4,9% (yoy) dari prediksi 5,2%. Lalu PDB China naik 9,7%.
3. Daya industrial output China naik ke 14,8% dari sebelumnya 14,1%. Angka ini berada di atas ekspektasi 14%.
"Nah, negatifnya yaitu kecenderungan kenaikan suku bunga mengatasi inflasi yang tinggi akan menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek," selorohnya.
Sedangkan faktor internal, diakuinya, pelaku pasar sebaiknya mencermati penguatan rupiah dan aksi korporasi emiten yang beramai-ramai membagikan dividen.
"Pilihan satu pekan ini coba ke BJBR, KREN, BSDE, dan PTPP," sarannya.











