IMQ, Jakarta —
Lagi-lagi, sektor perbankan mampu menjadi hidangan penutup yang lezat bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam sepekan, IHSG menguat 1,1% ke 3.741, terdongkrak penguatan saham bank 2,04%, walau secara persentase sektor properti jauh lebih tinggi, sekitar 2,89%.
"Memang secara persentase properti besar, namun kapitalisasi pasar perbankan untuk IHSG adalah yang terbaik," tutur pengamat pasar modal, sekaligus wealth motivator Jimmy Dimas Wahyu Indraseno (JDW) kepada IMQ dalam perbincangan santai, Jumat (8/4) malam.
Ia berpendapat terhitung tiga pekan berturut-turut sektor perbankan menjadi tulang punggung IHSG. Hebatnya lagi, bila ada krisis dan pasca krisis, saham berbasis bank merupakan sektor yang pertama menderita, tapi sekaligus cepat bangkit. "Karena kita tahu, banking menghimpun dana masyarakat yang terbesar," selorohnya.
Berikut rekapitulasi sektor di lantai bursa:
* Banking 2,04%
* Property 2,89%
* Mining 0,92%
* Consumer 0,85%
* Basic Industry 0,12%
* Manufaktur 0,04%
* Agriculture -0,47%
* Infrastructure -1,22%
* Misc Industry -1,22%
Selain itu, faktor penguatan indeks masih dipengaruhi oleh eksternal dan internal. Contohnya, kata JDW, permintaan Portugal akan bailout, kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa menjadi 1,25%, serta kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor dari 'BB' menjadi 'BB+'. Dan kurang 1 level lagi, membuat Indonesia masuk dalam 'investment grade'.
"Indonesia akan menjadi pilihan investor asing untuk berinvestasi serta merta semakin banyak dana yang mengalir masuk ke Indonesia (inflow)," harapnya.
Sedangkan faktor internal, laporan keuangan dan pengumuman dividen dan inflow, khususnya di saham-saham unggulan, semakin menggiring IHSG ke 3.800 bulan ini.
"Jadi, fasten your seatbelt," pungkasnya mengibaratkan IHSG dengan Kendaraan yang melaju kencang.











