IMQ, Jakarta —
Sepertinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah menemukan titik keseimbangan sehingga tidak ada alasan April ini IHSG tidak dapat menembus level 3.800. Jumat ini (8/4), IHSG diterawang menguat di kisaran 3.730-3.760.
Menurut pengamat pasar modal sekaligus berprofesi sebagai Wealth Motivator, Jimmy Dimas Wahyu Indraseno, kegairahan indeks masih didukung oleh pembagian dividen yang cukup besar, laporan keuangan beberapa perusahaan, serta siklus deflasi maupun inflasi yang tercatat kecil.
"Belajar dari pengalaman sebelumnya, inflasi Maret-April biasanya tidak terlalu tinggi," telisik JDW, sapaan akrab Jimmy Dimas dalam bincang-bincang santai bersama IMQ, Kamis (7/4) malam.
Sayangnya, lirih JDW, kenaikan harga minyak yang hampir menembus US$110 per barel sudah mengkhawatirkan. Per 7 April 2011 saja, harga minyak dunia bertengger di level US$109 per barel. Namun, kenaikan harga minyak menjadi pundi-pundi keuntungan bagi saham berbasis minyak dan gas.
"A good offense is the best defense. Jadi, posisi sekarang seharusnya menyerang," selorohnya.
Hal ini dipicu faktor psokologis internal pasar yang 'bullish' setelah melihat IHSG sudah 'break' di level 3.700 kembali. Walaupun sempat turun tipis, namun level tersebut menjadi posisi yang stabil. Kini, saatnya menantikan 'break' 3.800. Bahkan, penguatan indeks kemarin diyakini lantaran adanya permintaan bailout dari Portugal dan Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunganya menjadi 1,25% dari 0,25%.
"Dengan kenaikan indeks, kita pun perlu disiplin investasi agar berhasil," tegasnya.
Melihat kondisi ini, ia merekomendasikan saham PT Pembagunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Bank Jabar Tbk (BJBR), dan PT Kresna Securities Tbk (KREN) boleh diakumulasi bagi investor jangka panjang. Sedangkan trader jangka pendek saham PT Bisi Internasional Tbk (BISI) serta BJBR layak untuk dicermati.
"Bagi trader di posisi IHSG saat ini lebih baik trading saja," pungkasnya.











