IMQ, Jakarta —
Tingginya harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang pada penutupan perdagangan Selasa (5/4) mencapai Rp3.250 per saham, sepertinya tidak mengubah pandangan riset lembaga keuangan dan investasi dunia, Goldman Sachs, agar investor melakukan aksi jual (sell) saham perusahaan tambang batubara ini.
Riset Goldman Sachs berkeyakinan saham BUMI bakal turun dengan target harga (TP) Rp2.800 per lembar, meski laba bersih perseroan sepanjang 2010 tercatat senilai US$311 juta atau naik dibandingkan 2009 senilai US$190,45 juta.
Menurut Goldman, kenaikan laba bersih tersebut hanya didorong oleh keuntungan sebesar US$274 juta, terutama dari keuntungan transaksi derivatif, keuntungan penjualan aset, keuntungan valas yang sebagian tergerus oleh bunga atas keterlambatan pembayaran pajak dan amortisasi beban pengeluaran.
Beban bunga dan keuangan perseroanpun pada 2010 juga membengkak 237,97% menjadi US$630,34 juta dari posisi US$186,51 juta.
"Pada dasarnya laba sebelum pajak yang diraup BUMI (Profit Before Tax/PBT) yang 7% itu di bawah ekspektasi," tukas Goldman dalam risetnya yang diterima IMQ di Jakarta, Selasa malam (5/4).
Selain itu, tarif pajak dan hak minoritas (minority interest) juga lebih tinggi dari perkiraan, sehingga laba bersih inti perseroan diprediksi hanya sebesar US$162 juta, angka ini masih 41% di bawah ekspektasi Goldman, dan 38% di bawah konsensus Bloomberg.
Goldman juga menambahkan meski pendapatan BUMI tumbuh 19,07% menjadi US$4,37 miliar dari sebelumnya US$3,67 miliar, namun tingginya margin kotor sebesar 37% disebabkan oleh adanya pengeluaran akibat produksi.
"Tingginya biaya produksi perseroan yang tercatat senilai US$230 miliar karena digunakan untuk membiayai pengupasan yang dilakukan sepanjang 2010," lanjutnya.
Sementara itu, penjualan yang dilakukan BUMI terhadap PT Mitratama meski telah berhasil dituntaskan pada kuartal II 2010, namun perseroan belum menerima hasil pembayaran senilai US$290 juta dari penjualan Gallo Oil yang dilakukan pada kuartal IV 2010, sehingga memberikan implikasi negatif pada pasar.











