Semarang (ANTARA) —
Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun dua pabrik gula untuk mengejar target swasembada pada 2013, dikhawatirkan justru akan memicu impor 'Raw Sugar' secara besar-besaran, kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng, Rif`an.
'Pembangunan pabruk gula baru akan memicu impor `Raw Sugar` besar-besaran, untuk memenuhi kesediaan bahan baku,' katanya di Semarang, Jumat.
Ia mengemukakan, rencana pemerintah provinsi untuk membangun dua pabrik gula baru, di Purbalingga dan Blora, tidak didukung dengan ketersediaan areal tebu secara mencukupi.
Padahal, katanya, produktivitas tanaman tebu di Jawa Tengah relatif rendah.
Ia mengkhawatirkan jika dua pabrik gula itu terealisasi dan mulai beroperasi, bahan baku tidak akan dapat dipenuhi oleh tebu berasal dari wilayah itu.
'Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ini akan didatangkan `Raw Sugar` dari luar negeri,' kata Rif`an yang juga politikus Partai Golkar itu.
Ia meminta pemerintah provinsi lebih fokus kepada penyediaan areal tanaman tebu dalam upaya pencapaian target swasembada gula pada 2013.
Selain itu, katanya, pemerintah juga harus mengupayakan revitalisasi pabrik gula yang sudah ada untuk meningkatkan kualitas produksi.
'Saat ini, kualitas rendemen tebu tidak optimal karena sejumlah mesin pabrik gula di Jawa Tengah sudah berusia tua,' katanya.
Provinsi Jateng membutuhkan sekitar 67.000 hektare areal kebun tebu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam upaya mencapai swasembada gula pada 2013.
Kepala Dinas Perkebunan Pemprov Jateng, Teguh Winarno, mengatakan, kebutuhan gula provinsi itu untuk mencapai swasembada sebanyak 400.000 ton.
'Untuk mencapai produksi sebanyak itu, dibutuhkan setidaknya lima juta ton tebu dengan rendemen mencapai delapan persen,' katanya.
Lahan seluas 67.000 hektare tersebut, katanya, diperkirakan mampu menghasilkan tebu hingga 5,2 juta ton.
'Tebu sebanyak itu, jika diolah akan menghasilkan sekitar 402.000 ton gula. Cukup untuk mencapai swasembada,' katanya.











