London (ANTARA/Reuters Life!) —
Scan otak pada anak lelaki remaja yang agresif dan anti-sosial serta memiliki kondisi yang dikenal sebagai gangguan prilaku telah mendapati perbedaan ukuran dan susunan beberapa bagian otak, kondisi yang diduga berkaitan dengan prilaku mereka.
Satu studi oleh beberapa ilmuwan Inggris memperlihatkan perbedaan tersebut ada, tak peduli berapa pun usia pasien saat mengalami perkembangan gangguan. Temuan itu menantang pendapat bahwa remaja yang mengembangkan gangguan prilaku semata-mata meniru dan tak memiliki rujukan di otak mereka.
Gangguan prilaku (CD) adalah kondisi kejiwaan yang ditandai oleh tingkat prilaku anti-sosial dan kondisi agresif yang di atas normal. Kondisi tersebut lebih umum ditemukan pada anak lelaki ketimbang anak perempuan, dapat berkembang pada masa anak-anak atau remaja, dan banyak ahli mengatakan itu mempengaruhi sebanyak lima dari setiap 100 remaja. Anak-anak dan remaja yang mengalami CD menghadapi risiko lebih besar untuk terserang lebih banyak gangguan kesehatan fisik dan mental saat mereka dewasa.
Di dalam studi itu, para ahli syaraf di University of Cambridge dan Cognition and Brain Sciences Unit di Medical Research Council menggunakan pencitraan resonansi magnetik untuk menentukan ukuran wilayah khusus di otak pada 63 remaja lelaki yang memiliki gangguan prilaku. Mereka membandingkan hasilnya dengan 27 remaja lelaki yang tak memperlihatkan gejala gangguan prilaku.
Temuan mereka. disiarkan di American Journal of Psychiatry pada Jumat (1/4). Studi tersebut memperlihatkan amygdala dan insula --wilayah di otak yang memberi sumbangan bagi persepsi emosi, empati dan daya rekognisi ketika orang lain sedih-- berada dalam kondisi lebih kecil pada remaja dengan prilaku anti-sosial.
Perubahan ada pada anak yang mengalami CD pada masa anak-anak dan CD pada masa remaja, dan makin parah gangguan prilaku itu, makin besar pengurangan volume insula, kata para ilmuwan tersebut, sebagaimana dilaporkan Reuters Life, yang dipantau ANTARA di Jakarta.
'Perubahan pada 'grey matter volume' di beberapa daerah otak dapat menjelaskan mengapa remaja yang mengalami gangguan prilaku mengalami kesulitan dalam mengenali emosi orang lain,' kata Graeme Fairchild, yang memimpin penelitian tersebut dan kini bekerja di Southampton University, Inggris.
Ia mengatakan studi lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki apakah perubahan pada susunan otak itu adalah penyebab atau akibat dari gangguan prilaku.











