Moskow (ANTARA/RIA Novosti-OANA) —
Peranan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Libya tidak mencakup penentuan keputusan tentang masa depan negara itu, kata Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Giampaolo Di Paola di Brussel.
'NATO tidak terlibat dalam menentukan masa depan Libya dan rakyatnya, hal itu diserahkan sepenuhnya kepada rakyat Libya sendiri,' katanya.
Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa 1973, yang disahkan pada 17 Maret, memberlakukan zona larangan terbang terhadap Libya dan mensahkan 'segala tindakan yang diperlukan' guna melindungi warga sipil dari ancaman pasukan Muammar Gaddafi, namun tidak membolehkan operasi darat terhadap negara yang dilanda gejolak politik sejak Februari itu.
'NATO beroperasi dengan dasar resolusi 1970 dan 1973,' kata Di Paola.
'Fokus NATO adalah melindungi warga sipil dan wilayah berpenduduk di Libya terhadap ancaman serangan,' kata Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, dalam sebuah pernyataan tertulis.
Sejumlah 13 negara melakukan operasi militer terhadap Libya dengan dasar resolusi tersebut. Sementara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada Minggu mulai mengambil alih komando operasi militer tersebut dari Amerika Serikat.











