Jakarta (ANTARA) —
Salah satu aktivis dan deklarator Dewan Penyelamat Negara atau `Depan`, M Hatta Taliwang, kembali mengingatkan media massa agar jangan cenderung jadi alat kekuasaan.
'Dalam pengamatan rekan-rekan kami di `Depan`, kini banyak tokoh politik, akademisi dan termasuk pers yang terkesan menjadi 'dungu', terjebak pada perdebatan yang sengaja direkayasa yang tak ada ujung pangkalnya,' katanya menyitir sebuah diskusi di Jakarta, Kamis.
Akibatnya, demikian Hatta Taliwang, para tokoh politik, akademisi dan pers ikut membesar-besarkan bahkan memperpanjang-panjangkan topik tertentu sesuai dengan selera penguasa.
'Sementara berita skandal Bank Century, mafia pajak Gayus dkk, rekening gendut para perwira, Pemilu curang dan bocoran penyalahgunaan kekuasaan presiden dari `Wikileaks` sayup-sayup hilang seperti iklan yang `gak kuat membayar, 'nyaris tak terdengar',' ujarnya.
Berita-berita seperti ini yang mestinya patut diketahui publik, yakni bagaimana proses penanganan serta penuntasannya, menurut dia, hilang ditelan bumi.
'Tinggallah rakyat tetap tertunduk lesu dalam kemiskinan berkepanjangan,' katanya.
Sengaja Dipelihara
Hatta Taliwang dkk juga menengarai, ada pihak di lingkup elite tertentu yang sengaja memelihara sejumlah konflik dan masalah sebagai materi buah bibir serta pemberitaan.
'Konflik SARA sepertinya dipelihara dalam rangka menjadi topik berita. Mulai dari heboh Manohara, Cicak Buaya, Anggodo Anggoro, Antasari, Ponari, Ryan, Ganyang Malaysia, Sinetron Antasari, Susno, Ariel, Dipo Alam, hingga Nurdin Halid, Bom Buku, Selly dan Malinda Dee. Lalu, besok apalagi?,' ujarnya.
Ia lalu menunjuk bentrok Ahmadiyah dan amuk massa `antaragama`, kemudian besoknya ribut sesama warga, lusa perang suku, sedangkan minggu depan penggrebekan teroris.
'Mungkin saja bulan depan berulang lagi dan lagi dan lagi, sementara para tokoh politik, akademisi dan pers terus saja menjadi 'dungu' dengan ikut membesar-besarkan dalam topik perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya, karena sengaja diperpanjag-panjangkan,' kata M Hatta Taliwang.











