Beijing (ANTARA/Xinhua-OANA) —
Sejarah telah berulangkali menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan bukan jawaban untuk menyelesaikan masalah, sebaliknya hanya akan membuat masalah itu semakin pelik, kata Presiden China Hu Jintao di Beijing Rabu merujuk kejadian di Libya saat ini.
'Dialog dan cara-cara damai lainnya adalah solusi utama untuk masalah-masalah,' kata Hu dalam pertemuan dengan tamunya Presiden Prancis Nicolas Sarkozy.
Situasi Libya telah menjerat perhatian internasional dan China sangat prihatin dengan situasi tersebut, kata Hu, dan menambahkan bahwa China berpendapat bahwa resolusi Dewan Keamanan PBB di Libya bertujuan untuk memadamkan kekerasan dan melindungi warga sipil.
'Jika tindakan militer membawa bencana bagi warga sipil dan menyebabkan krisis kemanusiaan, maka itu bertentangan dengan tujuan resolusi PBB,' tegas Hu.
'Kami telah memperhatikan bahwa beberapa negara dan organisasi regional telah mengangkat usulan dan saran dalam mengatasi krisis Libya, yang tidak kekurangan ide-ide konstruktif,' ucap Hu.
Dia mengatakan China percaya itu adalah kepentingan semua pihak terkait untuk menanggapi secara positif usulan tersebut.
Menekankan dukungan China terhadap upaya-upaya politik untuk meredakan ketegangan di Libya, Hu mengatakan bahwa China telah meminta pihak-pihak terkait untuk segera melakukan gencatan senjata, mencari cara damai untuk memecahkan masalah dan menghindari lebih banyak korban sipil.
Hu mengatakan China berpendapat, bahwa kemerdekaan, kedaulatan, kesatuan dan integritas wilayah suatu negara harus dihormati dan bahwa China menentang penggunaan kekuatan dalam urusan internasional.
Sarkozy mengatakan Prancis juga berharap untuk menyelesaikan krisis Libya melalui cara-cara politik dan diplomatik.
'Pada saat pertemuan terjadi menyusul sebuah konferensi internasional tentang Libya (di London), dan Presiden Hu mengambil kesempatan pertemuan untuk menguraikan sikap China terhadap masalah ini,' kata Dia Wenping, seorang ilmuwan pada Akademi Ilmu Sosial China.











