Jakarta (ANTARA) —
PT Garuda Indonesia Tbk mengumumkan, laba bersih perseroan pada 2010 sebesar Rp515,5 miliar, berarti anjlok 49 persen dibanding tahun sebelumnya yang bisa mencapai di atas Rp1 triliun.
'Meski begitu, pendapatan usaha Garuda 2010 sebesar Rp19,5 triliun atau meningkat 9,4 persen dibanding 2009 sebesar Rp17,8 triliun,' kata Dirut PT Garuda Indonesia Tbk Emirsyah Satar kepada pers di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, secara umum operasional perseroan pada 2010 meningkat sebesar 30 persen lebih terutama untuk kebutuhan bahan bakar dan layanan kepada 13 juta penumpang pada 2010 atau naik dibanding 2009 sebesar 10,3 juta penumpang.
'Tahun lalu, kami mendatangkan 24 pesawat baru (23 B737-800 dan satu A330-200) dan untuk ini perlu kru baru dan utilisasi pesawat yang masih rendah,' katanya.
Sementara itu, kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) perseroan, kata Emirsyah, meningkat menjadi Rp25,7 miliar dari Rp21,7 miliar pada 2009.
'Margin penumpang (yield) di 2010 meningkat sebesar 13,7 persen menjadi 8,6 sen dolar AS dibanding 2009 sebesar 7,5 sen dolar AS,' katanya.
Tingkat isian penumpang 2010 sebesar 71,7 atau turun 1,5 persen dibanding 2009 sebesar 73,1 persen dengan tingkat ketepatan penerbangan (OTP) sebesar 80,2 persen.
'Pada 2010, kami juga berhasil menuntaskan program restrukturisasi hutang dan dalam empat tahun terakhir, Garuda mampu menurunkan jumlah hutangnya dari 868 juta dolar AS menadi 436 juta dolar AS,' katanya.
Karena itu, tambah Emir, kewajiban yang harus dikeluarkan Garuda per tahunnya sekitar 40-50 juta dolar AS hingga 2016.
Target 2011
Menyinggung target-target kinerja perseroan di 2011, Emirsyah enggan menjelaskan secara terbuka karena terkait dengan regulasi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).
'Mohon maaf, kami tak bisa menyebutkan prediksi karena secara regulasi tak memungkinkan. Kami takut diduga ikut mempengaruhi harga saham,' katanya.
Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk, Elisa Lumbantoruan juga enggan menyebut secara rinci berapa nilai belanja modal tahun ini.
'Tapi jika selama lima tahun sejak 2011-2015 total belanja modal kita 1,3 miliar dolar AS,' katanya.
Dia juga menegaskan, seluruh dana Initial Public Offering (IPO) Garuda 350 juta dolar AS, tidak akan digunakan untuk membayar hutang per tahun, termasuk untuk belanja modal.
'Seluruh dana IPO untuk ekspansi usaha,' kata Elisa.
Emirsyah menegaskan, pihaknya tahun ini akan membuka rute regional baru, seperti ke Taipei dan pada akhir tahun ke sejumlah kota di beberapa negara ASEAN.











