Jakarta (ANTARA) —
PT Garuda Indonesia Tbk berencana menerapkan sistem batas atas harga tiket dan mengurangi tiket promosi untuk menyiasati dampak kenaikan harga bahan bakar avtur.
'Kami belum akan menaikkan tarif, sampai ada keputusan dari regulator mengenai penerapan `fuel surcharge`,' kata Direktur Utama Garuda, Emirysah Satar, usai acara penandatanganan kerjasama 32 BUMN, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu.
Menurut Emirsyah, kenaikan harga bahan bakar avtur sejauh ini sudah mulai mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan, namun belum mengambil langkah untuk menaikkan tarif.
Namun ia menjelaskan, untuk menyiasati hal itu, pihaknya akan menerapkan sistem batas atas harga tiket, termasuk mengurangi porsi tiket promosi untuk sejumlah jalur penerbangan.
'Langkah penerapan sitem batas atas harga tiket tersebut dilakukan untuk mengatasi dampak kenaikan avtur,' ujarnya.
Meski begitu ia tidak merinci berapa besar pengurangan tiket promosi yang akan dilakukan perusahaan penerbangan yang baru melepas kepemilikan sahamnya kepada publik (IPO) pada 11 Februari 2011 ini.
Emirsyah juga tidak menyebutkan berapa besar porsi tiket promosi yang dijual setiap tahun dari total penerbangan Garuda.
'Saya tidak tahu persis, tetapi selama tiket promosi cukup banyak yang disesuaikan dengan sejumlah jalur dalam periode tertentu,' ujarnya.
Menurutnya, yang dikurangi adalah tiket murah terendah, namun tetap mempertahankan sebagian tiket sub-class tertinggi.
Meski begitu Emirsyah menambahkan pihaknya tidak khawatir dengan penerapan batas atas tarif tiket dan pengurangan tiket promosi tersebut akan mengurangi minat konsumen terhadap penerbangan Garuda.
'Tidak apa-apa. Yang penting kualitas layanan yang diberikan Garuda tetap pada level maksimum, agar penumpang tetap merasakan kenyamanan menaiki Garuda,' katanya.











