Kairo (ANTARA/Xinhua-OANA) —
Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa menyatakan disini pada Selasa bahwa organisasinya pan-Arab siap menjadi tuan rumah perundingan rekonsiliasi Palestina, kata kantor berita negara Mesir MENA.
Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan dengan Mahmoud al-Zahar, seorang tokoh pemimpin gerakan Islam Palestina Hamas di kantor pusat Liga Arab Kairo.
'Liga Arab bersedia menjadi tuan rumah pertemuan apapun yang dapat berkontribusi untuk mendorong maju upaya rekonsiliasi nasional,' kata Moussa kepada wartawan.
'Tidak ada pembenaran untuk perpecahan lebih lanjut antar bangsa Palestina,' katanya, menekankan perlunya mencapai rekonsiliasi dan menyatukan jajaran Palestina.
Sebuah delegasi Hamas yang dipimpin oleh al-Zahar mengunjungi Mesir untuk pertama kalinya sejak mantan Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri pada 11 Februari.
Al-Zahar menegaskan bahwa Hamas bersikeras melanjutkan proses rekonsiliasi secepat mungkin untuk mencapai kesepakatan.
Setelah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Mesir Nabil el-Arabi, Selasa sebelumnya di Kairo, Al-Zahar mengatakan bahwa ia mengharapkan Mesir akan melakukan perubahan kebijakan yang positif tentang perbatasan Rafah dan pengepungan di Jalur Gaza.
Dia mengatakan Hamas dan Mesir mencapai kesepakatan pada semua poin yang terkait dengan negosiasi dengan Fatah untuk mengakhiri gesekan antar-Palestina dan pencapaian rekonsiliasi.
'Mereka mendukung kami pada masalah rekonsiliasi dan kami setuju pada semua poin, bahkan langkah-langkah praktis yang Hamas dan Fatah akan ambil untuk mencapai rekonsiliasi,' kata al-Zahar.
Al-Zahar mengatakan ia juga membahas dengan el-Arabi isu pembukaan penyeberangan perbatasan dan pemberian bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina.
Dia menambahkan, sudut pandang Mesir akan mengkristal dalam beberapa hari mendatang mengenai Rafah dan mencapai rekonsiliasi Palestina.
'Kita akan menyaksikan visi Mesir pada penanganan perbatasan Rafah dan kasus Palestina selama minggu depan atau hari-hari mendatang,' kata al-Zahar.
Upaya-upaya Mesir untuk menengahi pembicaraan rekonsiliasi antar-Palestina dalam dua tahun terakhir gagal untuk menyelesaikan perjanjian antara kelompok Fatah dan saingannya Hamas, sebagian karena ketegangan antara pemerintah Mubarak dan Hamas, yang memerintah Jalur Gaza.
Perbatasan Rafah dengan Gaza sebagian besar masih tertutup untuk barang dan orang sejak Mesir menutup penyeberangan itu pada tahun 2007, setelah Hamas mengambil alih Jalur Gaza dengan mengusir pasukan keamanan yang setia kepada Presiden Otorita Nasional Palestina Mahmoud Abbas, tetapi masih membuka penyeberangan dua hari seminggu untuk kasus kemanusiaan.











