Paris (ANTARA/Xinhua-OANA) —
Prancis telah mengirim seorang utusan ke markas pemberontak di Benghazi, Libya timur, kata seorang pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya sebagaimana dikutip oleh media lokal pada Selasa.
Menurut AFP, diplomat veteran Prancis, Antoine Sivan (55), dan seorang juru bahasa Arab berangkat dari Prancis pada Ahad dan sedang menuju Benghazi melalui Mesir.
Benghazi adalah benteng pertahanan pemberontak Libya dan saat ini menjadi tempat pemerintahan pemberontak, Dewan Transisi Nasional (NTC) yang pertama diakui Prancis sebagai badan sah khusus yang mewakili rakyat Libya.
Prancis telah menyatakan keinginannya untuk mengirimkan 'duta besar' ke markas pemberontak di Benghazi setelah dua wakil militan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Nicolas Sarkozy di Istana Elysee pada 10 Maret.
Kementerian Luar Negeri Prancis kemudian menyambut perwakilan pemberontak kembali dan mengatakan jika mereka melakukan komunikasi rutin dengan lembaga pemberontak.
Tidak terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Prancis mengenai 'wakil' tersebut, namun media setempat mengatakan penjelasan mungkin dapat diungkapkan di sela-sela pertemuan internasional tentang Libya yang diikuti oleh lebih dari 35 negara di London.
Pertemuan di London itu diharapkan dapat menghasilkan landasan utama yang bertujuan mencapai solusi politik atas krisis Libya.
Seluruh anggota koalisi dalam operasi militer di Libya, dan juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan Liga Arab menghadiri pertemuan tersebut.











