Jakarta (ANTARA) —
Ekonom Standard Chartered Bank, Eric Sugandi mengatakan bahwa minat investasi di pasar modal Indonesia tetap tinggi meski kondisi global masih bergejolak.
'Ini antara lain didorong optimisme bahwa paling lambat 2012 Indonesia akan mendapatkan peringkat `investment grade` (layak investasi) dari lembaga pemeringkat Moody`s, S&P, serta Fitch,' kata Eric dalam diskusi dampak krisis Timur Tengah dan bencana di Jepang terhadap Indonesia di Jakarta, Selasa.
Eric menyebutkan, pasar saham di Indonesia masih memiliki potensi berkembang seiring dengan adanya harapan pertumbuhan fundamental ekonomi Indonesia.
Menurut dia, kendala yang mungkin menghadang adalah soal inflasi dan penyediaan inrastruktur yang memadai.
'Semua akan bergantung pada kesigapan pemerintah dalam menjaga tingkat inflasi dan penyediaan infrastruktur yang memadai,' katanya.
Ia menambahkan, jika melihat kebutuhan akan pendanaan yang besar dan mendesak, maka surat utang menjadi salah satu instrumen permodalan yang menarik dan diminati oleh perusahaan, baik asing maupun dalam negeri.
'Negara-negara berkembang (emerging markets) termasuk Indonesia masih menawarkan imbal hasil yang masih menarik,' kata dia.
PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat total investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 4,50 persen per Februari 2011 dibanding Januari 2011. Per Januari 2011 tercatat jumlah investor sebanyak 323.655 sementara per Februari 2011 tercatat sebanyak 338.227 investor.
Sementara itu Manajer Editorial Oxford Business Group, Josh Franken mengatakan bahwa komitmen Indonesia mempercepat penyediaan infrastruktur telah mengirimkan sinyal positif kepada pebisnis di dunia.
'Kemajuan telah dibuat yang tidak hanya akan menyediakan peluang nyata untuk investasi di Indonesia dalam proyek-proyek infrastruktur terkait yang menguntungkan, tetapi juga memberikan kemudahan di mana sektor swasta dapat terlibat,' paparnya.
Namun, tambah dia, kemajuan selanjutnya akan menjadi penting jika negara dengan serius menjawab banyak tantangan yang terkait dengan infrastruktur.
Pengamat pasar modal dari Millenium Danatama Securities, Ahmad Riyadi menambahkan, prospek bursa saham Indonesia tahun ini masih cukup menjanjikan.
IHSG masih berpeluang mengukir rekor-rekor baru di tengah ketidakpastian perekonomian global sebagai dampak konflik di Timur Tengah dan bencana di Jepang.
'Instrumen-instrumen investasi Indonesia akan menjadi magnet kuat bagi investor lokal maupun asing di tengah belum pulihnya kondisi perekonomian global,' katanya.
Apalagi, lanjutnya, lembaga pemeringkat internasinal akan menaikkan peringkat Indonesia ke 'invesment grade'. Pelaku pasar akan membaca bahwa kenaikan peringkat akan mendorong aliran masuk modal asing ke Indonesia.
'Memang jika dilihat dari sisi fundamental kondisi ekonomi Indonesia merupakan pasar yang masih menjanjikan, pertumbuhan ekonomi 2011 bisa mencapai 6,5 persen,' katanya.











