Jakarta (ANTARA) —
Nilai tukar rupiah di pasar uang spot antarbank Jakarta, Selasa pagi, melemah tiga poin ke Rp8.715 per dolar AS dari posisi sebelumnya yang berada pada Rp8.712 per dolar AS.
Pengamat valas Ahmad Riyadi di Jakarta, Selasa, mengatakan, mata uang Asia melemah, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pagi ini yang melemah tipis.
Sudah sepekan ini rupiah bergerak fluktuasi (mix) dalam kisaran yang sempit karena minimnya sentimen positif di dalam negeri maupun eksternal, katanya.
'Penguatan rupiah menjadi alasan yang bagus untuk melakukan penjualan terkait tidak adanya faktor domestik yang minim sentimen,' katanya.
Ia menambahkan, sentimen masih melemah terkait Bank Indonesia menggunakan apresiasi mata uang rupiah untuk membantu mengendalikan inflasi.
Sementara itu, Analis pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menambahkan, Pemerintah akan menerbitkan obligasi baru berjangka waktu tiga dan enam bulan untuk pertama kalinya.
'Pasar obligasi jangka pendek ini nantinya diharapkan menjadi acuan suku bunga dan kupon, menggantikan acuan yang sebelumnya menggunakan SBI 3 bulan,' kata dia.
Namun, kata dia, pemerintah belum menetapkan kapan penerbitan tersebut akan dilakukan. Selama ini pemerintah baru menerbitkan obligasi jangka pendek satu tahun yang disebut sebagai Surat Perbendaharaan Negara (SPN).
Tercatat hingga 17 Maret lalu, total penerbitan SPN tersebut baru mencapai Rp24,5 triliun, atau hanya 2,3 persen dari total penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp1.090 triliun.
'Penerbitan SPN jangka pendek 3-6 bulan ini dimasa mendatang diharapkan menjadi salah satu instrumen kebijakan moneter dalam kegiatan operasi pasar tebuka (OPT) sebagaimana praktik OPT yang lazim dilakukan di negara lainya,' kata dia.
Dalam kegiatan OPT tersebut, lanjut dia, BI akan melakukan jual-beli di pasar sekunder SPN tersebut.











