Jakarta (ANTARA) —
Duta Besar Republik Rakyat Bangladesh, Golam Mohammad, memperkirakan total perdagangan Bangladesh dan Indonesia akan mencapai 1 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2012, dari total perdagangan hingga saat ini senilai 800 juta dolar.
'Kami berharap hubungan bilateral dan perdagangan antara kedua negara meningkat di masa mendatang,' kata Dubes Mohammad dalam sambutannya pada resepsi Hari Nasional dan Kemerdekaan ke-41 Bangladesh di Jakarta Senin malam.
Menteri Kesehatan Ny. Endang Rahayu Sedyaningsing dan sejumlah duta besar turut menghadiri resepsi tersebut.
Menurut Mohammad, Bangladesh dan Indonesia telah menandatangani perjanjian pembebasan visa bagi pemegang paspor diplomatik dan pejabat. Dengan demikian diharapkan kontak antar pemerintah dan antar individu keduanya terus meningkat dan berdampak pada peningkatan perdagangan.
Lebih jauh dia mengatakan kedua negara berupaya mendorong hubungan bilateral di berbagai bidang seperti investasi, komersial, pertanian, pendidikan dan kebudayaan, pertahanan, pariwisata, dan farmasi selain perdagangan sejak 1972.
'Saya yakin rakyat Bangladesh dan Indonesia akan memanfaatkan peluang itu untuk meningkatkan kerja sama bilateral yang saling menguntungkan,' tambahnya.
Indonesia termasuk salah satu negara pertama yang mengakui Bangladesh sebagai negara berdaulat pada Februari 1972 dan pada bulan yang sama Bangladesh membuka kantor kedutaaan besarnya di Jakarta.
Kedua negara menjalin kerja sama di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan juga forum regional seperti Organisasi Konferensi Islam, Gerakan Non Blok, G-77, D-8 dan Asean Regional Forum.
Menurut Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar RI untuk Bangladesh Zet Mirzal Zainuddin melakukan kunjungan kerjanya ke provinsi Chittagong, Bangladesh, akhir tahun lalu untuk mengintensifkan pemasaran produk ekspor Indonesia.
Dubes Zainuddin menjelaskan bahwa Bangladesh yang berpenduduk 164 juta jiwa saat ini sedang pesat melakukan pembangunan di berbagai bidang. 'Ini merupakan pasar yang sangat potensial dan besar bagi penetrasi pemasaran produk-produk nonmigas Indonesia, termasuk produk-produk industri strategis lainnya,' tambahnya.
Menurut dia, mobil Avanza, Suzuki APV, dan gerbong kereta api telah masuk Bangladesh dan sangat diminati.
Pengusaha Bangladesh mengharapkan peningkatan perdagangan langsung dengan Indonesia antara lain melalui kehadiran Trade Centre of Indonesia di Bangladesh.
Harapan tersebut menguat seiring dengan pesatnya kemajuan Indonesia khususnya posisinya sebagai anggota G-20 dan sebagai negara dengan potensi ekonomi terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara.











