Jakarta (ANTARA) —
Komisi VII DPR mengingatkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mempertimbangkan segala aspek dan memperketat calon mitra lokal yang akan digandeng perusahaan asing dalam tender PLTU Jawa Tengah berkapasitas 2 X 1000 MW.
'Jangan asal ada keberpihakan terhadap mitra lokal lantas pemilihannya menjadi tidak terukur, sehingga tidak kompeten dalam mendukung pembangunan pembangkit ini,' kata Anggota Komisi VII DPR, Setya W Yudha saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Ia mendukung perusahaan nasional diberikan kesempatan yang besar dalam proyek PLN , tentunya pemilihan perusahaannya pun tidak bisa sembarangan agar nantinya tidak menjadi masalah bagi PLN.
Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa DPR akan mempertanyakan PLN, apabila nantinya ditemukan masalah ataupun pengaduan yang merugikan.
Ia juga menyarankan kepada PLN untuk melakukan 'beauty contest' bagi perusahaan-perusahaan yang akan terlibat dalam proyek ini sehingga selain lebih transparan, juga akan menguatkan PLN untuk memilih para perusahaan yang berkompeten. 'Sebaiknya tendernya terbuka,' katanya.
Sebelumnya, Ketua Komisi VII DPR Teuku Riefky Harsah mengatakan bahwa penyertaan perusahaan domestik diperlukan agar terjadi transfer teknologi dan pengetahuan kelistrikan dari pihak asing ke mitra Indonesia.
Namun demikian, PLN perlu menilai dengan cermat perusahaan nasional mana saja yang memiliki kemampuan terbaik dalam penyediaan tenaga listrik dan kebutuhan pendukungnya.
'Penentuan pemenang tender PLTU ini harus benar-benar komprehensif. Selain memberikan kesempatan kepada perusahaan domestik, teknologinya harus dipilih yang benar-benar dapat diandalkan. Jadi jangan hanya melihat harga yang termurah tapi tiga atau lima tahun sudah bermasalah. Lebih baik harga agak mahal sedikit tapi bertahan lama sampai puluhan tahun,' ujar Anggota Fraksi Demokrat ini.
Teuku Riefky juga meminta agar PLN bisa menuntaskan proses tender PLTU Jateng sesuai jadwal dengan tetap berpedoman kepada aturan-aturan yang berlaku.
Ia juga mendorong agar mitra lokal ini diberikan kesempatan.'Perusahaan dalam negeri tentu harus didorong dan diberikan kesempatan untuk berpartisipasi, misalnya melalui kemitraan dengan prinsipal asing yang memiliki rekam jejak dan teknologi yang teruji dalam penyediaan tenaga listrik,' kata Teuku Riefky.
PT PLN saat ini sedang memproses tender pembangunan PLTU Jawa Tengah senilai sekitar tiga miliar dolar AS, diikuti tujuh perusahaan asing yang lolos proses prakualifikasi.
Ketujuh perusahaan itu adalah Cina Shenhua Energy Company Limited, CNTIC-Consortium Guandong Yudean, Japan Power Konsorsium, Korea Electric Power Company (KEPCO), Marubeni Corporation, Mitsubishi Corporation, dan Mitsui-Intemational Power Konsorsium.
Masing-masing perusahaan asing tersebut menggandeng mitra lokal sesuai persyaratan yang ditentukan PLN.
Ketujuh perusahaan pemenang tender itu nantinya diberikan waktu maksimal selama 1 tahun atau hingga akhir 2011 untuk menyelesaikan masalah pendanaan proyek setelah penandatanganan PPA dilakukan. Konstruksi proyek itu ditargetkan dimulai awal 2012 sehingga beroperasi komersial pada akhir 2016.
PLTU Jawa Tengah nantinya akan menjadi pembangkit listrik bertenaga uap terbesar di Indonesia. PLTU ini nantinya memberikan kontribusi sekitar 10 persen terhadap pasokan listrik di Jawa Bali, sehingga pada tahun 2016 ditargetkan 85 persen kebutuhan listrik Jawa-Bali terpenuhi.











