Jakarta (ANTARA) —
PT Indosat Tbk tidak akan menambah utang baru untuk pengembangan bisnis tahun ini menyusul 'free cash flow' yang dimilikinya tahun 2010 yang mencapai Rp868 miliar.
'Kami tidak perlu menambah utang baru. Belanja modal (capex) akan didanai dari arus kas internal dan fasilitas (kredit) yang sudah ada,' kata Dirut PT Indosat Tbk, Harry Sasongko, pada temu redaktur, di Jakarta, Senin.
Ia bahkan mengatakan pada tahun ini, pihaknya siap membayar utang sebesar 200 juta dolar AS dari total utang perusahaan itu yang mencapai Rp24,063 triliun pada 2010.
Harry mengatakan, pada 2010 pihaknya mampu membukukan 'free cash flow' sebesar Rp868 miliar, atau lebih cepat dari target awal yaitu pertengahan 2011.
'Tahun ini capex (belanja modal) pasti akan lebih tinggi (dibandingkan tahun 2010) karena modernisasi alat akan terus dilakukan,' ujarnya. Namun ia tidak mau memberikan angka pertumbuhan capex dan akan diumumkan secara resmi pada akhir April 2011.
Harry juga optimis pada 2011 akan terjadi pertumbuhan laba bersih perusahaan telekomunikasi yang memiliki 44 juta pelanggan itu. Namun, ia juga tidak mau memberikan target pertumbuhan laba bersih perusahaan yang tahun lalu mencapai Rp647,2 miliar atau turun 56,8 persen dibandingkan tahun 2009 yang mencapai Rp1,498 triliun.
Penurunan laba pada 2010 tersebut, kata dia, terjadi karena menurunnya laba atas kurs, meningkatnya beban pendanaan, dan meningkatnya beban penyusutan dan amortisasi.
Pada 2010, Indosat Tbk juga mempercepat pembayaran utang sebanyak Rp 6,7 triliun yang terdiri dari utang atas fasilitas kredit BCA sebanyak Rp1,3 triliun, DBS sebesar Rp400 miliar, dan Bank Mandiri Rp900miliar.
Selain perusahaan itu juga melunasi obligasi dalam dolar yang jatuh tempo pada 2010 sebesar 234 juta dolar AS, pelunasan obligasi dalam rupiah yang jatuh tempo pada 2010 sebesar Rp640 miliar, dan mempercepat pelunasan obligas yang jatuh tempo 2012 sebesar 109 juta dolar AS.
'Tahun 2011 laba bersih akan naik,' ujar Harry optimis. Pihaknya akan melakukan berbagai strategi untuk menaikkan laba antara lain melalui investasi pada belanja modal, memperluas jaringan, pengembangan kanal distribusi dan segmentasi, serta, modernisasi peralatan.
Harry bahkan menegaskan, pihaknya sebagai manajemen yang mengelola Indosat belum membutuhkan suntikan dana baru dari Qatar Telecom (Qtel) yang menguasai 65 persen perusahaan jasa telekomunikasi nasional itu. 'Belum dibutuhkan (suntikan dana) dengan adanya `free cash flow,' ujarnya.
Sementara itu Komisaris Independen PT Indosat Tbk Rachmat Gobel menegaskan Qtel yang telah menanamkan investasi lebih dari dua miliar dolar akan terus mengembangkan Indosat agar menjadi pemain tangguh di industri telekomunikasi, tidak hanya di dalam, tapi juga di luar negeri.
'Kalau memang diperlukan, (suntikan modal) pasti dilakukan,' ujar Rachmat.











