Jakarta (ANTARA) —
Invasi militer asing berdasarkan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa ke Libya telah mempengaruhi ekonomi Amerika Serikat sebagai salah satu negara pendukung serangan, kata seorang pakar politik dan kebijakan internasional.
'Invasi tersebut tidak hanya merenggut korban dari rakyat Libya, namun juga korban di pihak lainnya, terkait dengan biaya peperangan yang harus ditanggung bahkan oleh AS sendiri,' kata Dinna Wisnu PhD seusai seminar nasional 'Kajian dan Prediksi Politik Luar Negeri Indonesia 2010-2011' di Universitas Paramadina Jakarta, Senin.
Menurut Dinna, ketika melakukan serangan ke Libya atas nama Hak Asasi Manusia, AS dengan defisit yang ditanggung begitu besar tidak sadar bahwa mereka telah mengorbankan rakyatnya sendiri.
'Rakyat AS sendiri dibohongi dengan pertumbuhan ekonomi yang mereka kira masih dapat menopang kehidupan mereka padahal tindakan itu bermasalah bagi mereka,' kata Dinna yang juga direktur Program Pascasarjana Universitas Paramadina.
Dikatakannya, selain korban berjatuhan dari tentara AS sendiri, terdapat juga korban dari warga mereka yang tewas akibat kelaparan atas memburuknya ekonomi akibat peperangan yang mereka lakukan dan dampaknya memang sangat dirasakan oleh warga AS.
Menyinggung serangan militer asing terhadap Libya, Dinna mengatakan bahwa masyarakat internasional dikecewakan dengan kekerasan yang kembali digunakan untuk meredam kekerasan lain.
'Setelah sebelumnya dikecewakan dengan invasi AS ke Afghanistan, kali ini serangan militer asing ke Libya dan kami tidak melihat ada yang berbeda dalam kasus ini dan yang mengecewakan bahwa kasus tersebut bukan dianggap sebagai bahaya internasional,' tambah Dinna.
Mengenai sikap Indonesia, Dinna mengatakan bahwa setidaknya Indonesia dapat menunjukkan simpati terhadap negara-negara yang mengalami krisis dengan mengutuk invasi tersebut dan membentuk tim yang dapat membantu mereka menghindari transisi pemerintahan secara brutal dan melalui kekerasan.
Pada Sabtu (19/3) sejumlah negara asing melakukan serangan udara terhadap pasukan yang dianggap setia kepada pemimpin Libya, Muammar Gaddafi dan diperkirakan serangan itu merenggut 64 korban jiwa.
Media asing melaporkan bahwa sejak 19 Maret hingga 27 Maret, operasi militer telah melakukan 1.257 penerbangan militer dan 540 diantaranya merupakan serangan udara.
Negara yang ikut andil dalam serangan tersebut yaitu Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Kanada, Italia, Spanyol, Belgia, Denmark dan Qatar.
AS menjadi negara penyedia kekuatan militer terbesar dengan sebanyak 787 penerbangan di luar jumlah negara lainnya sebanyak 470 penerbangan.











