Padang (ANTARA) —
Pemasangan antene parabola di Rumah Gadang, rumah adat tradisional Minangkabau dinilai telah merusak pola ruang luar ciri khas arsitektur Minang pada bangunan rumah adat beratap bentuk runcing tanduk kerbau itu.
Pemasangan antene tersebut selain bisa mengubah pola pikir kehidupan masyarakat tradisional Minang juga merusak pola ruang luar rumah gadang, kata peneliti arsitektur Minang dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta Dr Eko Alvares di Padang, Senin.
Keberadaan antene parabola juga bagian dari telah banyak terjadi perubahan pola ruang luar rumah gadang saat ini, tambahnya.
Pola ruang luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam dan dipisahkan dari alam dengan memberi frame, dalam arti kata sebagai lingkungan luar buatan manusia yang merupakan arsitektur tanpa atap.
Akan tetapi, saat ini telah banyak terjadi perubahan pola ruang luar rumah gadang, termasuk pemasangan antene parabola untuk menangkap siaran televisi karena kurangnya perhatian dan pengetahuan masyarakat Minang di daerah terhadap pelestarian rumah adat Minangkabau ini.
Menurut dia, keberadaan parabola juga menunjukkan kehidupan yang berbeda saat ini di Minang yang secara tidak disengaja telah membawa kepada kaum kerabat di kampung halaman. Kehidupan yang berbeda itu adalah gaya hidup perkotaan yang dapat berdampak negatif terhadap masyarakat tradisional dan lambat laun akan mempengaruhi kehidupan di desa.
Ia menyebutkan, pemasangan parabola adalah salah satu gaya hidup yang berpengaruh terhadap pola ruang luar rumah gadang yang selain bisa mengubah pola pikir kehidupan masyarakat, juga dapat merusak pola ruang luar rumah gadang.
Seperti contoh, ruang-ruang luar komunal rumah gadang kini telah banyak dipasangi antene parabola yang tidak memperhatikan visualisasi, tambahnya.
Parabola ditempatkan di atap atau di depan rumah gadang, yang mengganggu ruang komunal masyarakat untuk berkegiatan dan seharusnya penempatan ini ditata dengan baik agar tidak mengganggu.
Ia menyebutkan, telah banyak terjadi perubahan pola ruang luar rumah gadang karena kurangnya perhatian dan pengetahuan masyarakat Minang di daerah terhadap pelestarian rumah adat Minangkabau ini.
Perubahan ini selain pada pemasangan antene parabola juga nampak pada banyaknya rumah hunian atau bangunan lain seperti warung, kamar mandi dan WC di halaman atau disisi rumah gadang.
Menurut dia, rumah gadang juga mulai ditinggalkan sebagai awal dari perubahan pola ruang luar rumah adat tersebut.
Ia mengatakan, salah satu penyebab itu terjadi hal itu karena munculnya tren kehidupan baru pada masyarakat Minang di perkampungan, dengan mulai terpengaruh gaya hidup orang kota yang cenderung individual dan menggunakan teknologi modern.
Tren tersebut memberikan dampak bagi korelasi negatif terhadap rumah gadang dengan rumah baru, dimana rumah gadang yang lebih dulu berdiri kini hanya sebagai hiasan dan saksi bisu berdirinya rumah-rumah baru, tambahnya.
Korelasi seperti itu akan memberikan dampak bagi kelangsungan rumah gadang, dimana rumah baru justru dibangun pada bagian depan atau di samping rumah gadang, bahkan terkadang ditempatkan persis di samping atau di sebelahnya.
Penempatan rumah baru yang kurang bersahaja ini tentu sangat mengganggu pola luar rumah gadang, demikian Dr Eko Alvares.











