IMQ, Jakarta —
Rekonstruksi di Jepang pasca gempa bumi dan tsunami tentunya akan membutuhkan pasokan baja yang cukup besar. Hal ini memberikan peluang industri baja nasional, khususnya PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) untuk memasok kebutuhan baja bagi perbaikan infrastruktur Negeri Sakura itu.
Head of research e-Tading Securities, Bertrand Raynaldi, mengatakan sebagai pemimpin industri baja di Indonesia, KRAS sangatlah berpeluang untuk membantu Jepang dalam memenuhi pasokan baja.
“Langkah ini akan berdampak positif, di mana peningkatan permintaan tentunya berdampak pada naiknya volume penjualan dan mempengaruhi penghasilan bersih KRAS ke depan,” tuturnya kepada IMQ, Minggu (20/3).
Bertrand menambahkan hal ini juga turut memberikan keuntungan bagi Indonesia karena meningkatnya ekspor baja tentunya akan menambah cadangan devisa negara.
“Berdasarkan konsensus analis merekomendasikan Buy, dan tidak ada yang merekomendasikan Hold dan Sell dengan target harga rata–rata sebesar Rp1.370 per lembar,” tukasnya.
Sebagai gambaran, pada tahun ini KRAS membidik penjualan produksi baja sekitar 1,9 juta ton atau naik 11,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Sedangkan pendapatan ditargetkan senilai US$2,2 miliar atau tumbuh 15,7% dibanding pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya sekitar US$1,9 miliar.
Perseroan saat ini juga akan menitikberatkan persiapan lahan untuk pembangunan 3 proyek antara lain pembangunan pelabuhan, pembangkit tenaga listrik, dan pabrik baja hasil usaha patungan dengan Posco, Korea.
KRAS diperdagangkan di konsensus PER 9.3x, sementara itu pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu (18/3) saham KRAS ditutup di level Rp1.160 dengan frekuensi transaksi 1,808 kali pada volume sebanyak 58,12 miliar lembar saham.











