IMQ, Jakarta —
Periset Capital Prime, Perdana Wahyu Santosa menelisik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin (21/3) belum mengalami penguatan secara signifikan, malah fluktuatif dalam kisaran sempit.
"Hal ini disebabkan belum menentunya situasi Jepang pasca tsunami dan memanasnya geopolitik di Libya," ulas PWS - nama bekennya saat berbicang-bincang dengan IMQ, Minggu (20/3).
Memang, lanjutnya, kabar bahwa Libya mengumumkan penghentian operasi militer untuk melindungi warga sipil dianggap belum dapat membuat IHSG pulih, begitu bursa regional. Bahkan setelah adanya kesepakatan G7 yang memutuskan untuk membantu mengerem penguatan yen sekalipun. "Namun, investor tidak akan begitu saja percaya Libya segera aman dan yen kembali pulih," ucapnya.
Perdagangan hari ini diramal tidak didukung volume yang signifikan dengan support di 3.475 dan resisten di 3.525. Diakuinya, spekulasi harga minyak masih di atas US$100 per barel. Namun, semuanya tergantung efektivitas serangan pasukan koalisi Barat ke Libya.
"Sektor tambang khususnya batubara akan mendapatkan keuntungan jangka pendek dan menengah akibat melonjaknya harga minyak," urainya.
Kendati demikian, PWS melihat turunnya permintaan Jepang atas batubara menjadi pukulan negatif. "Untuk itu, sebaiknya spekulatif trading jangka pendek," rekomendasinya.











