Medan (ANTARA) —
Niat Ali Mansyar untuk kembali melanjutkan studi di Jepang tetap tinggi meski sebagian daerah itu porak-poranda dilanda gempa yang kemudian disusul tsunami.
'Kuliah saya hampir rampung di sana, kalau tidak ada halangan akhir 2011 ini sudah kelar, jadi sayang kalau tidak dilanjutkan,' kata Ali Mansyar, salah seorang Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) yang melanjutkan pendidikan S-2 di Tohoku University, Jepang, di Medan, Minggu.
Ia mengatakan, saat ini dirinya sedang menunggu perkembangan selanjutnya pasca gempa dan tsunami, jika sudah memungkinkan dirinya akan segera kembali ke Jepang untuk menyelesaikan studi yang sementara ini harus tertunda akibat bencana tersebut.
'Tiket untuk kembali ke Jepang sudah di berikan pemerintah saat kami kembali ke Indonesia beberapa waktu lalu. Jadi saya hanya tinggal menunggu perkembangan lebih lanjut disana. Universitas tempat saya kuliah berada di daerah Sendai yang termasuk salah satu daerah terparah akibat tsunami,' katanya.
Dalam kesempatan itu ia juga menceritakan pengalamannya selama tiga hari berada di pengungsian yang terpaksa hidup dengan serba keterbatasan baik makanan maupun minuman di tengah musim dingin yang saat ini melanda Jepang.
Hari pertama di pengungsian, seluruh pengungsi memang mendapat jatah makanan dan minuman. Setiap orang mendapat jatah minuman sebanyak 250 mililiter per orang per hari.
Di hari kedua, yang mendapat jatah makanan hanya untuk anak-anak sementara untuk orang dewasa tidak lagi mendapat jatah makanan. Hanya mendapatkan jatah air sebanyak 250 mililiter.
Dengan jatah 250 mililiter air ber hari, dia merasakan itu tidak mencukupi. Untuk menutupi kekurangan itu, ia harus rela mencari air ke sebuah sungai di daerah itu yang jaraknya sekitar tujuh kilo meter dari pengungsian.
'Untungnya kita masih memiliki stok makanan yang dibawa dari asrama ketika akan mengungsi. Air terpaksa saya ambil sendiri dengan bersepeda ke sebuah sungai yang letaknya sekitar 7 kilo meter dari pengungsian,'katanya.
Di hari ketiga, kondisi mulai membaik dengan sudah kembali hidupnya kran-kran air yang ada di taman-taman kota. Hal itu langsung dimanfaatkan para pengungsi untuk memenuhi kebutuhan MCK.
'Hari ketiga, tepatnya pada malam hari, tim KBRI datang menjemput kami dan membawa ke Tokyo melalui jalur darat untuk selanjutnya diterbangkan ke Indonesia,' katanya.
Di kesempatan itu ia juga menceritakan, meski dalam kondisi yang serba kekurangan pasca gempa dan tsumani, tidak sekalipun terdengar adanya penjarahan yang dilakukan para korban bencana tersebut terhadap swalayan-swalayan yang ada.
Bahkan mereka tetap disiplin mengantre di swalayan-swalayan untuk bisa membeli berbagai kebutuhan, meski harus menunggu giliran yang cukup lama untuk itu.
'Masyarakat Jepang memang sudah lama mempersiapkan diri menghadapi bencana baik gempa ataupun tsunami, jadi ketika bencana benar-benar terjadi mereka tidak panik. Bahkan mereka tetap disiplin meski serba kekurangan, misalnya saja ketika harus mengantri lama untuk mendapatkan bahan makanan di swalayan,' katanya.











