Jambi (ANTARA) —
Masyarakat desa-desa di Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci, Jambi, kini sudah tidak lagi melakoni tradisi berburu belalang yang dulu menjadi salah satu ciri dan identitas yang khas bagi kehidupan masyarakat petani di kawasan tersebut.
'Sudah 20 tahun ini masyarakat petani di desa kita sudah tidak malakoni lagi tradisi berburu belalang seperti dulu, setiap menjelang musim tanam tiba,' ujar salah seorang pengurus Kelompok Tani dan kelompok Andel desa Lolo Hilir, Saleh (56), saat dihubungi di Kerinci, Rabu.
Ditegaskannya, semua desa di Kecamatan Gunung Raya ini mulai dari Lempur, Lolo sampai ke Kebun Baru yang dulu memiliki tradisi ini kini sudah tidak ditemukan lagi melakoni tradisi unik yang merupakan salah satu aplikasi dari semangat gotongg royong, kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat setempat yang telah diwariskan nenek moyang mereka sedari zaman purba dulu.
Hal serupa diungkapkan Andi (49) tokoh pemuda dari desa Lempur Tengah. Menurut dia masyarakat petani di desanya sudah tidak melakoni lagi tradisi tersebut semenjak sistem pertanian berubah modern dengan penggunaan bibit-bibit unggul yang diperkenalkan pemerintah 15 tahun belakangan ini.
'Khususnya tanaman padi, bibit unggul berbagai merek yang digunakan petani sekarang ini dengan sendirinya telah mengacaukan musim tanam masa panen petani di desa kita. Pasalnya padi-padi jenis unggul tersebut berumur jauh lebih pendek sangat berbeda dari umur padi lokal jenis Padi Payo yang sebelumnya setia dipakai seluruh masyarakat yang berumur enam bulan,' kata Andi.
Dulu, katanya, semua petani memiliki musim tanam dan panen yang serentak karena mereka menggunakan jenis padi Payo yang serupa, karena itu mereka bisa melakukan berbagai tradisi secara serentak pula. Sangat berbeda dengan sekarang yang musim panenya beragam antara 2 hingga 3 bulan sehingganya musim tanam setiap petani pun jadi beragam antara satu dengan lainnya.
'Dulu, tradisi berburu belalang dilakukan masyarakat saat menjelang musim tanam tiba. Saat itu segenap anggota masyarakat, besar-kecil, tua-muda, pria-wanita, semaua menyambut dengan suka cita musim berburu belalang itu,' kata Andi.
Pada satu malam mereka semua beramai-ramai turun ke sawah berbekal tabung bambu, dan penerangan obor guna memburu belalang, ratusan warga menyisir setiap deretan pematang sawah dari ujung ke ujung sambil `betale` dan berpantun sehingga deretan nyala obor yang bergerak perlahan di tengah sawah tersebut terlihat sebagai sebuah pemandangan yang sangat indah pada malam hari.
Aladin (48), salah seorang petani dari desa Lolo Gedang juga menjelaskan hal serupa. Menurut dia, belalang dalam perburuan itu yang ditangkap dimasukkan dalam tabung bambu atau botol, lalu keesokan harinya dimasak jadi lauk pauk alternatif yang lezat yang hanya ada sekali dalam satu musim tanam. Apalagi belalang juga mengandung gizi dan protein yan tinggi seperti halnya udang sehingga bagus untuk pertumbuhan tubuh anak-anak.
'Tradisi itu, dimaksudkan masyarakat untuk meminimalisir atau mngurangi tingkat gangguan atau serangan hama belalang terhadap tanaman padi ketika nanti padi sudah ditanam. Dan hasilnya terbukti sangat efektif tanaman padi masyarakat pada masa itu tidak pernah terkena serangan hama belalang atau wereng seperti yang sering terjadi saat pertanian modern sekarang ini, petani sering gagal panen karena padinya diserbu belalang dan wereng,' ujar Aladin.
Kini, tradisi yang syarat nilai-nilai karifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai semangat kebersamaan, gotong royong, persaudaraan, dan menghormati lingkungan secara arif bijaksana itu, kini sudah punah keberadaannya. Bagi sebagian masyarakat tradisi yang pernah menyala di tengah malam tersebut kini hanya menjadi sebersit kenangan dari masa lalu yang membawa rona kerinduan.











