Search:
Tuesday, Oct-15 2019 09:05 WIB
  • AGRI 1,348.280 0.000 (0.000%)
  • BASIC-IND 864.590 0.870 (0.101%)
  • BISNIS-27 530.720 0.330 (0.062%)
  • COMPOSITE 6,133.690 6.810 (0.111%)
  • CONSUMER 2,165.850 1.700 (0.079%)
  • DBX 1,143.350 1.800 (0.158%)
  • FINANCE 1,235.460 1.480 (0.120%)
  • I-GRADE 170.380 0.230 (0.135%)
  • IDX30 520.350 0.610 (0.117%)
  • IDX80 136.070 0.140 (0.103%)
  • IDXBUMN20 375.860 0.470 (0.125%)
  • IDXG30 135.230 0.330 (0.245%)
  • IDXHIDIV20 473.040 0.690 (0.146%)
  • IDXSMC-COM 265.750 0.320 (0.121%)
  • IDXSMC-LIQ 315.750 0.640 (0.203%)
  • IDXV30 135.240 0.580 (0.431%)
  • INFOBANK15 942.690 1.500 (0.159%)
  • INFRASTRUC 1,214.450 4.460 (0.369%)
  • Investor33 445.650 0.300 (0.067%)
  • ISSI 188.130 0.110 (0.059%)
  • JII 676.850 -0.030 (-0.004%)
  • JII70 230.380 0.010 (0.004%)
  • KOMPAS100 1,226.930 1.360 (0.111%)
  • LQ45 955.510 1.040 (0.109%)
  • MANUFACTUR 1,430.650 1.290 (0.090%)
  • MBX 1,700.960 1.770 (0.104%)
  • MINING 1,606.770 -5.090 (-0.316%)
  • MISC-IND 1,149.320 1.300 (0.113%)
  • MNC36 333.360 0.360 (0.108%)
  • PEFINDO25 345.560 0.530 (0.154%)
  • PROPERTY 500.360 0.050 (0.010%)
  • SMinfra18 319.450 1.060 (0.333%)
  • SRI-KEHATI 381.520 0.300 (0.079%)
  • TOTAL_MARKET 6,133.600 6.720 (0.110%)
  • TRADE 800.130 1.150 (0.144%)
  • © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
  • ADHI 1,230 10 (0.82%)
  • ADRO 1,300 5 (0.39%)
  • AGRO 210 4 (1.94%)
  • ANTM 990 -10 (-1.00%)
  • APIC 740 0 (0.00%)
  • APLN 230 0 (0.00%)
  • ASII 6,425 0 (0.00%)
  • BAPI-W 7 0 (0.00%)
  • BBCA 30,950 -50 (-0.16%)
  • BBNI 6,950 25 (0.36%)
  • BBRI 3,960 40 (1.02%)
  • BBTN 1,910 5 (0.26%)
  • BELL 510 -5 (-0.97%)
  • BGTG 68 1 (1.49%)
  • BHIT 71 0 (0.00%)
  • BKSL 116 1 (0.87%)
  • BMRI 6,550 -50 (-0.76%)
  • BNLI 1,180 0 (0.00%)
  • BRMS 50 0 (0.00%)
  • BRPT 915 0 (0.00%)
  • BTPS 3,790 40 (1.07%)
  • BUMI 82 0 (0.00%)
  • CLEO 555 0 (0.00%)
  • COCO 925 0 (0.00%)
  • CPIN 5,525 25 (0.45%) © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
  • CSIS 96 0 (0.00%)
  • CTRA 1,155 5 (0.43%)
  • DEAL 1,640 0 (0.00%)
  • DKFT 206 0 (0.00%)
  • DMAS 308 0 (0.00%)
  • EAST 115 0 (0.00%)
  • ELSA 324 2 (0.62%)
  • ENRG 56 0 (0.00%)
  • ENVY 2,040 0 (0.00%)
  • ERAA 1,660 10 (0.61%)
  • EXCL 3,510 20 (0.57%)
  • FITT 89 0 (0.00%)
  • FREN 172 4 (2.38%)
  • GGRM 54,200 325 (0.60%)
  • GIAA 560 -5 (-0.88%)
  • HMSP 2,280 10 (0.44%)
  • HOKI 925 -5 (-0.54%)
  • HRME 1,105 5 (0.45%)
  • IIKP 50 0 (0.00%)
  • INCO 3,750 -80 (-2.09%)
  • INDF 7,725 25 (0.32%)
  • INKP 6,325 50 (0.80%)
  • IPTV 515 0 (0.00%)
  • IRRA 560 186 (49.73%)
  • ISAT 3,120 80 (2.63%) © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
  • ISSP 179 0 (0.00%)
  • ITIC 1,335 0 (0.00%)
  • ITMG 13,075 -75 (-0.57%)
  • JAST 1,630 5 (0.31%)
  • JPFA 1,590 5 (0.32%)
  • JSMR 5,625 0 (0.00%)
  • KAYU 186 0 (0.00%)
  • KBLI 635 0 (0.00%)
  • KOTA 625 5 (0.81%)
  • KRAS 338 2 (0.60%)
  • LPKR 230 0 (0.00%)
  • LPPF 4,070 40 (0.99%)
  • MAIN 945 0 (0.00%)
  • MAMI 222 2 (0.91%)
  • MAPI 1,050 0 (0.00%)
  • MDKA 6,400 25 (0.39%)
  • MEDC 650 -15 (-2.26%)
  • MGRO 875 0 (0.00%)
  • MNCN 1,310 0 (0.00%)
  • NATO 905 0 (0.00%)
  • NZIA 1,015 10 (1.00%)
  • OPMS 270 0 (0.00%)
  • PGAS 2,200 20 (0.92%)
  • PNBN 1,295 35 (2.78%)
  • PNBS 50 0 (0.00%) © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
  • POSA-W 7 0 (0.00%)
  • PPRO 101 1 (1.00%)
  • PRIM 312 -18 (-5.45%)
  • PSAB 330 0 (0.00%)
  • PTPP 1,630 0 (0.00%)
  • PURE 500 0 (0.00%)
  • PWON 630 -5 (-0.79%)
  • SCMA 1,110 10 (0.91%)
  • SDMU 50 0 (0.00%)
  • SHIP 805 0 (0.00%)
  • SLIS 785 155 (24.60%)
  • SMGR 12,075 -25 (-0.21%)
  • SMKL 232 4 (1.75%)
  • SRIL 286 0 (0.00%)
  • SSIA 805 0 (0.00%)
  • TARA 760 0 (0.00%)
  • TBIG 6,825 0 (0.00%)
  • TDPM 304 0 (0.00%)
  • TELE 304 0 (0.00%)
  • TINS 910 5 (0.55%)
  • TKIM 9,925 0 (0.00%)
  • TLKM 4,190 0 (0.00%)
  • TOPS 585 -5 (-0.85%)
  • TOWR 665 10 (1.53%)
  • TPIA 9,000 0 (0.00%) © 2010 IMQ - LKBN ANTARA
  • UNTR 20,750 125 (0.61%)
  • UNVR 44,500 0 (0.00%)
  • VIVA 92 0 (0.00%)
  • WAPO 97 1 (1.04%)
  • WEGE 320 4 (1.27%)
  • WEHA 149 0 (0.00%)
  • WIKA 1,905 0 (0.00%)
  • WOOD 810 0 (0.00%)
  • WSBP 328 -2 (-0.61%)
  • WSKT 1,550 5 (0.32%)
Menghitung Prospek Steel Pipe Industry
Published: 9 Jun 2014 05:12 WIB


IMQ, Jakarta —  Sejak listing perdana pada 22 Februari 2013 lalu di harga 295, saham Steel Pipe Industry of Indonesia, yang sering juga disingkat Spindo (ISSP), sahamnya turun bukannya naik.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menuturkan, sahamnya terus turun hingga sempat menyentuh 131 sebagai titik terendahnya, meski kemudian mulai naik lagi dan terakhir ditutup di 168.

Kalau melihat model bisnisnya yang tidak biasa, yakni membuat dan menjual pipa-pipa baja, ISSP memang agak sulit untuk dijadikan pilihan investasi jangka panjang karena kinerja perusahaan kedepannya bisa sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan baku, pelemahan Rupiah.

"However, kalau melihat valuasi sahamnya yang terdiskon, manajemennya yang konservatif, serta kinerja terbaru perusahaan yang jelas-jelas masih oke, maka ISSP ini terlalu menarik untuk diabaikan," ujar Teguh dalam riset edisi Juni 2014.

ISSP adalah perusahaan produsen pipa baja terbesar di Indonesia yang bermarkas di Surabaya, di mana perusahaan menjual produk berupa pipa baja berbagai bentuk dan ukuran untuk pelanggan industri, konstruksi, minyak dan gas, hingga pabrik otomotif. Selain menjual pipa baja jenis stainless steel dan karbon, ISSP juga menyediakan jasa pelapisan dan pemotongan lembaran baja.

Hingga akhir 2012 perusahaan memiliki lima buah pabrik, yang tiga di antaranya berlokasi di Surabaya, dan dua lainnya di Pasuruan, Jawa Timur, dan Karawang, Jawa Barat.

Meski sudah berdiri dan beroperasi sejak 1971, hingga saat ini perusahaan hanya fokus pada pembuatan pipa baja saja dan tidak merambah bidang lain yang masih berkaitan seperti mendirikan pabrik baja, atau membuat produk baja lain selain pipa, seperti kawat baja, baja konstruksi.

Namun, dari sudut pandang investor hal ini justru bagus karena itu berarti perusahaannya bisa fokus pada satu jenis bidang usaha saja. Dan meski nama perusahaannya kurang terkenal di mata orang awam, namun dikalangan industri, Spindo sudah cukup dikenal sebagai perusahaan spesialis pipa baja.

"Bisnis pipa baja yang dijalani ISSP ini sangat rentan terhadap kenaikan harga lembaran baja sebagai bahan baku pembuatan pipa, fluktuasi nilai tukar Rupiah (karena sebagian lembaran baja tersebut diperoleh dari impor), dan perkembangan dari pasar pipa baja itu sendiri, yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan industri-industri yang membutuhkan pipa baja," paparnya.

Artinya,tidak heran ketika melihat bahwa di 2009 lalu, ISSP menderita kerugian hingga Rp308 miliar akibat pengaruh krisis global. Meski demikian di luar 2009 tersebut, laba bersih serta ekuitas perusahaan senantiasa bertumbuh hingga saat ini.

Kemudian soal prospek ke depannya, ketika perusahaan menggelar IPO kemarin, dananya untuk membangun pabrik anyar di Gresik, dan menambah kapasitas pabrik yang sudah ada di Karawang dan Pasuruan. Namun karena pabriknya belum jadi, maka sejauh ini hasilnya belum kelihatan.

Kinerja ISSP yang cukup bagus dalam setahunan terakhir ini lebih karena turunnya harga bahan baku baja, sehingga margin laba perusahaan meningkat (dan yang kena dampak negatifnya malah Krakatau Steel/KRAS, yang merupakan salah satu supplier lembaran baja ke ISSP).

Tapi yang membuat saham ini menarik adalah valuasinya. Kalau anda mengakuisisi 100% saham ISSP pada harga sahamnya saat ini, yakni Rp168 per saham, maka anda akan mengeluarkan dana Rp1,2 trilyun, untuk memperoleh aset bersih senilai total Rp2 trilyun.

"Dan kabar baiknya, mayoritas aset ISSP merupakan aset lancar seperti piutang usaha, persediaan bahan baku lembaran baja, hingga persediaan pipa baja siap jual, yang bisa dengan mudah dilikuidasi setiap saat," urainya.

Ia menilai perusahaan akan terus mencetak laba bersih yang besar seperti sekarang (pada Kuartal I 2014, ROE-nya 17%, cukup besar untuk ukuran perusahaan manufaktur yang marginnya biasanya kecil).

Dan kalau anda membeli 100% saham ISSP pada harga terendahnya, yakni Rp131 per saham, maka anda akan mengeluarkan dana Rp941 miliar untuk memperoleh modal kerja bersih (aset lancar ISSP dikurangi kewajiban lancarnya) senilai Rp951 miliar, belum termasuk aset-aset tetap seperti pabrik, kendaraan, dll.

Hal ini mengingatkan penulis ketika pada tahun 1962, Warren Buffett membeli Berkshire Hathaway pada PBV 0,8 kali berdasarkan nilai modal kerja bersihnya saja, diluar aset-aset tetap milik perusahaan.

Posisi ISSP saat ini seharusnya berada di level 250 atau di atasnya, dan kalau di atas itu maka barulah saham ini tidak bisa dikatakan murah lagi, karena PBV-nya sudah di atas 1 kali.

"So, meski saham ini mungkin tidak bisa dipegang untuk periode katakanlah 2 – 3 tahun, namun dalam jangka yang lebih pendek ISSP mungkin menawarkan gain yang lumayan," ujarnya.
Author: Susan Silaban
-
POPULAR NEWS