Jakarta (ANTARA) —
Sejumlah lembaga pendidikan di kota Sendai dan Prefektur Ibaraki, Jepang pada Sabtu dikabarkan menjadi tempat penampungan sementara bagi warga negara Indonesia yang berada di Jepang setelah gempa bumi dan tsunami melanda negara itu.
Gempa bumi berkekuatan 8,8 skala Richter mengguncang kawasan timur Jepang pada Jumat pukul 14.46 waktu setempat dan menimbulkan gelombang tsunami raksasa setinggi sepuluh meter yang menyebar dari episentrum gempa di timurlaut perairan Jepang ke perairan Pasifik dan sekitarnya.
Menurut laman Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo sebagian warga negara Indonesia di Jepang terdaftar telah mengungsi di sejumlah sekolah dasar hingga perguruan tinggi di kota Sendai maupun Prefektur Ibaraki.
'Pelajar dari Universitas Tsukuba di Ibaraki semua sedang mengungsi,' demikian laporan Persatuan Pelajar di Ibaraki dalam pernyataannya di laman KBRI Tokyo pada Sabtu.
Sebanyak 14 pelajar dari Universitas Tsukuba yang sedang mengungsi rata-rata berada di kampus Kasuga. Sedangkan WNI yang berada di Universitas Ibaraki mengungsi di rumah seorang WNI bernama Liyantono dengan jumlah sebanyak lima orang beserta beberapa yang membawa serta keluarga mereka.
Selain itu, pengumuman yang disampaikan oleh KBRI Tokyo juga menyebutkan bahwa sebanyak 30 WNI yang telah diketahui keberadaannya di Sendai mengungsi di sejumlah lembaga pendidikan serta tempat ibadah yang ada di kota itu.
Sebanyak 11 kepala keluarga berada di Sekolah Menengah Pertama Sanjo, enam kepala keluarga di Masjid Sendai, dan tujuh kepala keluarga berada di Sekolah Dasar Kunimi.
Selain itu empat kepala keluarga WNI di Sendai juga berada di Sekolah Dasar Tatemachi, satu keluarga di SD Kimachi dan satu keluarga lainnya berada di Kashiwagi Shimin Senta, demikian laporan tersebut menambahkan bahwa terdapat 24 kepala keluarga lainnya di Sendai yang sudah terhubungi namun belum diketahui pasti lokasi keberadaannya.
Upaya Penyelamatan Oleh KBRI
KBRI di Tokyo telah mengirimkan bantuan logistik bagi WNI di Sendai pada Sabtu siang selain mengirimkan dua regu penyelamat ke wilayah bencana yang dikabarkan telah mencapai wilayah Saitama sekitar 70 kilometer dari Tokyo pada Sabtu pagi.
Penutupan jalan bebas hambatan membuat perjalanan regu penyelamat ke wilayah bencana menjadi sangat lambat.
Selain itu perjalanan regu yang dikirim oleh KBRI menuju Sendai yang membawa selimut, alas tidur dan bahan makanan terpaksa menggunakan jalan biasa yang situasinya padat merayap sehingga mempersulit upaya pencapaian ke lokasi pengungsian.
Menurut KBRI di Tokyo, mereka sedang mempersiapkan upaya pengungsian bagi 414 WNI yang tercatat berada di Miyagi dan Iwate selain membagikan logistik bagi 100 WNI yang mengungsi di sejumlah gereja dan sekolah di kota Warai dan Mito.
KBRI di Tokyo menilai seluruh WNI yang berada di Jepang berjumlah 25.546 jiwa sementara perusahaan penyiaran Jepang, Nippon Hoso Kyokai (NHK), mengabarkan bahwa ribuan orang dinyatakan hilang, 630 tewas dan 9.000 warga lainnya mengungsi.
Nama dari para WNI yang mengungsi di sejumlah lembaga pendidikan baik di kota Sendai, Prefektur Ibaraki serta wilayah lain di Jepang dapat dipantau melalui laman, www2.indonesianembassy.jp atau melalui panggilan telepon ke nomor (+81) 90-3132-4994.
Penerbangan Ke Bandar Udara Narita, Tokyo Normal
Pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang dikabarkan terbang dari Jakarta maupun Denpasar menuju Bandar Udara Internasional di Tokyo, Narita dapat mendarat dengan normal di bandara tersebut.
Penerbangan Garuda dari Denpasar dan Jakarta menuju Tokyo, Jepang mendarat normal di Bandara Narita pagi ini, kata Kepala Komunikasi Perusahaan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Pujobroto dalam pernyataannya pada Sabtu.
Selain penerbangan ke Narita, pesawat Garuda tujuan kota lain di Jepang seperti Osaka dan Nagoya juga berjalan tanpa kendala.
Pesawat dengan nomor GA 880 berangkat dari bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali dengan 196 penumpang pada pukul 23.48 waktu setempat dan mendarat di Narita pada pukul 08.06 waktu setempat.
Sementara pesawat Garuda dari Bandara Soekarno-Hatta bernomor GA 884 berangkat pada pukul 23.50 waktu setempat dengan 152 penumpang dan tiba di Narita pada pukul 08.16 waktu setempat.
Sedangkan penerbangan Garuda dari Denpasar ke Osaka dengan nomor GA 882 yang berangkat pukul 12.55 wita tiba di Osaka pada pukul 07.42 waktu setempat, dimana penerbangan lain dari Denpasar ke Nagoya (GA 888) yang berangkat pukul 01.15 pagi (Sabtu, 12/3), tiba di Nagoya pukul 07.37 waktu setempat.
Setelah gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakan sebagian wilayah Jepang pada Jumat siang, Bandara Narita sempat dinyatakan tutup namun kembali beroperasi sekitar pukul 17.00 waktu setempat.
Lembaga Kesehatan Dan Dunia Berlomba Kirimkan Bantuan
Sejumlah lembaga kemanusiaan di bidang kesehatan dunia baik Palang Merah maupun Bulan Sabit Merah pada Sabtu berencana mengirim regu kesehatan ke kawasan yang dilanda bencana di Jepang.
Palang Merah Indonesia berencana mengirimkan regu beranggotakan tujuh orang ke Jepang dalam memberikan bantuan bagi para korban gempa dan tsunami.
'Kita akan memberangkatkan tujuh orang ke Jepang pada Senin (14/3). Saat ini sedang berkoordinasi dengan Badan SAR Nasional,' kata Kepala Biro Humas Markas Pusat PMI, Exkuwin Suharyanto di Jakarta pada Sabtu.
Pihaknya juga masih melakukan koordinasi termasuk dengan Palang Merah Jepang dimana nantinya tim akan disiagakan yang berada di wilayah bencana.
'Ini merupakan tim pendahulu, berdasarkan laporan mereka kita akan putuskan apakah diperlukan bantuan lainnya,' tambah Exkuwin.
Sementara itu Bulan Sabit Merah Turki dalam pernyataannya oleh Menteri Luar Negeri Turki, Mohamet Davutoglu pada Jumat mengatakan bahwa regu yang beranggotakan tiga penyelamat pendahulu akan berangkat ke Jepang.
Selain itu satu bidang krisis dibentuk di Ankara, Turki untuk mengoordinasikan upaya negara itu dengan Palang Merah di negara-negara yang terkena dampak oleh gempa tersebut.
Pernyataan itu menambahkan bahwa Bulan Sabit Merah Turki siap membantu Jepang, Taiwan, Indonesia, Filipina, Rusia dan Hawaii yang semuanya terkena dampak oleh gempa bumi besar itu.
Selain itu Menteri Luar Negeri Australia, Kevin Rudd mengatakan bahwa sejauh ini Tokyo telah meminta Australia untuk mengirim anjing pelacak dan berharap pesawat militer akan menerbangkan anjing beserta tim pencari dan penyelamat ke Jepang pada Sabtu.
'Pemerintah Australia siap untuk memberikan apa saja dalam hal ini, sesuai dengan permintaan dari pemerintah Jepang,' kata Rudd kepada wartawan di Canberra menambahkan bahwa Australia akan melakukannya.
Selain itu Indonesia melalui Menteri Koordinasi dan Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono mengatakan pada Sabtu di Makassar bahwa regu penyelamat Indonesia siap berangkat ke Jepang untuk membantu.
Pemerintah telah melakukan pembicaraan dengan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojiri dan Kementerian Luar Negeri bagi proses pengiriman tim kemanusiaan tersebut, tambah Agung.
'Kita pastikan dulu apa yang dibutuhkan di sana, sebelum kita kirim,' kata Agung.
Agung juga menyatakan bahwa Indonesia wajib membantu Jepang karena negara tersebut telah melakukan hal serupa saat Indonesia dilanda bencana alam.
Berdasarkan laman KBRI di Tokyo pada Sabtu bahwa gempa bumi masih dirasakan setiap sepuluh menit seperti yang dilaporkan WNI yang berada di prefektur Ibaraki.











