Denpasar (ANTARA) —
Nilai ekspor hasil kerajinan berbahan baku rotan dari Bali ke berbagai negara menunjukkan adanya peningkatan rata-rata 7,93 persen selama kurun waktu lima tahun, periode 2006-2010.
'Peningkatan yang cukup signifikan itu berkat rancang bangun (disain) berbagai jenis cindera mata dari bahan baku rotan hasil kreativitas perajin yang cukup diminati konsumen mancanegara,' kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan, perolehan devisa dari bahan rutan itu sebesar 5,33 juta dolar AS selama 2010, menurun 8,9 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 5,88 juta dolar AS.
Namun pada tahun 2006 mampu meraup devisa sebesar 4,19 juta dolar AS, meningkat 20,8 persen menjadi 4,95 juta dolar AS pada tahun 2007.
Kondisi tersebut meningkat lagi menjadi 6,19 juta dolar AS atau 22,09 persen pada tahun 2008 dan meningkat signifikan pada tahun 2009.
Ketut Teneng menjelaskan, Bali sendiri tidak memiliki kebun atau hutan yang khusus memproduksi rutan, Namun bahan baku untuk pembuatan berbagai jenis matadagangan dan aneka jenis cindera mata itu didatangkan dari Sulawesi, Kalimantan maupun Papua.
Perajin dan seniman Bali mengolah rotan itu menjadi kursi, lemari, perabot rumah tangga dan tempat tidur dengan disain yang unik dan menarik sehingga sangat diminati konsumen mancanegara.
Selain itu juga sebagai bahan baku pembuatan berbagai jenis cindera mata, sehingga hasil pengapalan dari bahan baku rotan cukup penting artinya dalam memacu perolehan ekspor non migas Bali.
Kerajinan dari bahan baku rotan merupakan salah satu dari 17 jenis kerajinan Bali yang berhasil menembus pasaran ekspor yang mampu meraup devisa sebesar 215,28 juta dolar AS selama 2010.
Dengan demikian industri kerajinan skala rumah tangga di Bali mampu menopang perolehan ekspor non migas Bali yang keseluruhannya mencapai 519,91 juta dolar AS selama 2010, meningkat 3,46 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat 502,54 juta dolar AS, ujar Ketut Teneng.











