IMQ, Jakarta —
Penetapan harga saham perdana (IPO) maskapai kebanggan Indonesia, PT Garuda Indonesia (Persero) Rp750 per lembar dinilai sebagian analis pasar modal terlalu mahal. Sebab rata-rata PE-nya sebanyak 25x kemahalan bila dibandingkan Cathay, China Airlines, Malaysia Airlines dan Singapore Airlines.
Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities, Suraj Khiani melihat rata-rata PE Garuda pada sebanyak 25x, atau telalu kemalahan jika dibandingkan dengan lima maskapai penerbangan luar negeri, di mana rata-rata PE-nya hanya 2011 12-13x. "Sehingga diperkirakan tidak ada investor yang mau beli, sebab terkesan maksa padahal pre-order-nya hanya Rp500-600," tulis Suraj.
Jika ditelisik lebih jauh, rata-rata PE Garuda ini hampir mendekati maskapai penerbangan Inggris, British Airways sekitar 25x, di mana rata-rata industri maskapai hanya 17x. Belum lagi jika dikaji dengan menggunakan buku 2010 maka diperoleh PE 74x berdasarkan kinerja kuartal III-2010.
Hal yang serupa pun dilontarkan oleh sekuritas BUMN yang enggan disebutkan identitasnya mengakui harga sahamnya kemahalan sehingga tidak laku untuk asing.
Lain halnya dengan Education & Training Manager PT Kresna Graha Sekurindo, Jimmy Dimas Wahyu mengatakan asing tidak ada yang masuk untuk saham Garuda hanya saja asing yang membeli hanya memanfaatkan momentum IPO, kemudian melepasnya. "Investasi not okay," ujar Dimas.
Komentar yang sama pun datang dari analis Lauthandana Securindo, Willy Sanjaya. Ia melihat penetapan harga itu relatif mahal dan tidak memiliki prospek. Secara fundamental, Garuda tidak didukung dengan kinerja terbaik. Bahkan, sepanjang perjalanannya Garuda didera utang dan pesawat yang digunakan merupakan hasil 'charteran'.
"Jadi harus dibedakan Garuda dengan emiten BUMN lain. Kalau emiten BUMN lain bisa berproduksi dan menghasilkan, sementara Garuda tidak berproduksi dan tidak menghasilkan produk. Jadi, akan sangat berisiko untuk mengeloleksi saham perseroan," telisik Willy.
Alih-alih, saham Garuda nantinya paling banter akan menjadi saham tidur alias tidak likuid. Kalau sudah demikian, saham itu akan menjadi objek gorengan sejumlah broker dan pelaku pasar untuk menunjukkan saham perseroan seolah-olah aktif dan laik sebagai bidikan koleksi. Apalagi industri dirgantara dalam negeri belum banyak diketahui khalayak. Dan, Garuda satu-satunya emiten yang memberanikan diri menjejakkan kakinya di lantai bursa hanya bermodal nekat.
"Cukup gunaka momentum IPO saja, untuk investasi jangan sebaiknya investasi jangka panjang di saham KS dengan resiko yang kecil," tukasnya.
Memang, info di pasar mengatakan komposisi saham garuda untuk asing 40%, sedangkan lokal 60%.
Garuda akan melepas sekitar 26,67%, atau 6,27 miliar lembar saham dari yang dijadwalkan semulai sekitar 36,67%, atau 9,6 miliar. Sehingga dengan hajatan ini Garuda akan memperoleh dana segar sektiar Rp4,751 triliun pada harga Rp750 per lembar. Sisa sahamnya sekitar 4% akan dilepas pada 'secondary offering'.











