IMQ, Jakarta —
'Beli biangnya buat apa beli botolnya'. Demikian bunyi tagline sebuah minuman multivitamin hasil racikan tangan dingin PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang cukup menggairahkan investor ketika lelah berdagang seharian penuh.
Periset PT NISP Securities Indonesia, Yuni Pratiwi menguraikan Kalbe Farma terus mengepakkan sayap kapasitas untuk bersaing dengan pertumbuhan pasar. Bahkan, Asosiasi Farmasi memprediksi bahwa pasar tumbuh YoY sekitar 12% pada 2010, yakni dari Rp34 triliun menjadi Rp38 triliun. Sehingga, mau tidak mau Kalbe Farma pun terus tumbuh 12-13% pada 2011.
"Kami mengharapkan perusahaan ini terus tumbuh hingga 13% menjadi Rp11,9 triliun dengan pertumbuhan 25,4% YoY menjadi Rp1,60 triliun pada 2011," tulis Yuni dalam risetnya, Kamis (27/1).
Selama ini, divisi farmasi dan nutrisi akan menjadi pendorong utama pendapatan dengan populasi yang meningkat di Indonesia dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta peningkatan kapasitas. Seperti penjualan Chil Mill, binta produk bayi dan Pregnan yang tujuannya ibu hamil. Ada juga divisi kesehatan konsumen akan ada perbaikan dengan penjualan ekspor yang tinggi dengan target pasar Filipina dan Vietnam.
Memang, lanjutnya divisi kesehatan konsumen hanya mampu memberikan pertumbuhan yang datar, alias stagnan 1,8% menjadi Rp1,3 triliun sepanjang sembilan bulan di 2010, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,28 triliun. Penyebabnya tak lain penjualan Extra Joss yang tidak lagi mampu untuk menarik kekuatan daya beli konsumen karena harus bersaing dengan kompetitornya, Kuku Bima Gingseng.
"Menyadari kejenuhan domestik, perusahaan akan fouks pada pangsa pasar ekspor," ujarnya.
Nah, kontributor utama Kalbe Farma memang dari divisi obat-obatan dengan kotribusi hingga 26,2% terhadap total pendapatan dan 34,3% dari laba kotor. Untuk itu, perseroan akan membangun pabrik produksi yang dimulai pada kuartal I-2011 dengan mengalokasikan dan Rp100 miliar dari anggaran belanja modal tahun ini Rp650 miliar. Tujuannya semata-mata untuk mengantisipasi kelebihan permintaan.
NISP juga meramal pada tahun ini laba bersih perseroan tumbuh sekitar 25,4% YoY menjadi Rp160 miliar, dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp1,28 miliar. Dukungan ini pun datang dari tren harga saham perseroan yang menguat, kendatipun pada akhir Desember hingga 19 Januari terjadi tren melemah merespon kejatuhan IHSG. Kini, harga sahamnya bangkit.
Untuk 2011 saja, PER diproyeksikan sekitar 18,4 kali, atau wajar dengan EV/EBITDA-nya 10,6 kali dengan imbal hasil dividen 1,1%. Untuk ROE dan ROCE-nya akan menguat masing-masing 24,1% dan 35,3%.
Dengan perumbuhan yang kuat di semua segmen, perseroan harus mengkaji buku 2011 yang dengan asumsi target saham Rp3.350. Namun, Kalbe Farma harus memiliki karakteristik yang unik untuk menggenjot pertumbuhannya ditengah kebutuhan domestik dan mengambil untung dari penguatan rupiah.
"Mengingat ada potensial sekitar 6%, maka kami merekomendasikan 'hold' untuk saham KLBF," pungkasnya.











